JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan membiarkan Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza yang baru dicapai pekan ini, Jumat (10/10). Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Gedung Putih ingin memastikan stabilitas di kawasan Timur Tengah tetap terjaga.
Menurut sumber diplomatik yang mengetahui proses negosiasi, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff bersama menantu Presiden, Jared Kushner, telah berkomunikasi dengan pihak Hamas melalui mediator dari Turki, Mesir, dan Qatar. Pesan utama dari Washington: Trump akan menjamin terlaksananya rencana perdamaian yang ia usulkan secara penuh.
Dua pejabat senior AS yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa pemerintahan Trump bahkan telah menyiapkan satuan tugas (satgas) khusus untuk memantau implementasi kesepakatan tersebut. Satgas ini akan dibentuk di bawah koordinasi langsung Amerika Serikat dan bertugas menangani setiap potensi pelanggaran yang mungkin terjadi di lapangan.
“Presiden ingin memastikan tidak ada pihak yang bermain ganda. Bagi beliau, gencatan senjata ini adalah momentum untuk menghentikan pertumpahan darah,” ujar salah satu pejabat tersebut kepada media internasional.
Rencana pembentukan satgas itu mencakup kehadiran sekitar 200 tentara dan perwira militer AS yang akan ditempatkan di markas pemantau di Israel. Selain itu, Mesir, Qatar, Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut akan turut serta dalam misi pengawasan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kredibilitas kesepakatan.
Langkah ini diambil setelah laporan sebelumnya menyebutkan adanya pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada Maret lalu. Pemerintah AS menilai kepercayaan antara kedua pihak yang bertikai masih sangat rapuh, sehingga mekanisme pemantauan internasional dianggap mutlak diperlukan.
“Trump menilai penting untuk mengakhiri siklus kekerasan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Ia ingin menunjukkan bahwa Amerika tidak hanya berbicara, tapi juga bertindak,” tambah sumber lain dari lingkaran pemerintahan.
Dengan tekanan diplomatik dan langkah pemantauan yang lebih tegas, Washington berharap kesepakatan terbaru ini dapat membuka jalan menuju dialog damai yang lebih berkelanjutan di Gaza dan kawasan sekitarnya.
Selengkapnya baca berita aktual lainnya hanya di JurnalLugas.Com






