Iran Geger, Menlu Ungkap Bukti Perintah Asing Tembaki Warga Saat Demo, Internet Diblokir

JurnalLugas.Com – Pemerintah Iran secara terbuka menuding adanya keterlibatan pihak asing dalam eskalasi aksi protes yang melanda sejumlah kota sejak akhir Desember 2025. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa sebagian demonstran menerima instruksi langsung dari luar negeri untuk melakukan serangan bersenjata terhadap aparat keamanan dan warga sipil.

Dalam pernyataannya pada Senin, 12 Januari 2026, Araghchi mengungkapkan bahwa pemerintah memiliki bukti berupa rekaman pesan suara yang diduga dikirim oleh aktor asing kepada para perusuh. Pesan tersebut, menurutnya, berisi perintah eksplisit untuk menembak polisi jika berada di lokasi, dan menyerang warga sipil bila tidak ada aparat.

Bacaan Lainnya

“Isi pesan itu jelas menekankan peningkatan jumlah korban dan pertumpahan darah sebagai tujuan,” ujar Araghchi singkat kepada awak media, menegaskan bahwa aksi kekerasan tersebut tidak lahir secara spontan.

Protes Dipicu Krisis Nilai Tukar dan Inflasi

Gelombang unjuk rasa di Iran bermula dari meningkatnya keresahan publik terhadap kondisi ekonomi nasional. Melemahnya nilai tukar rial dalam beberapa bulan terakhir memicu lonjakan harga barang grosir dan eceran, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

Baca Juga  Saeed KhatibzadehIran Tolak Gencatan Senjata Sementara, Akhiri Permanen Konflik Timur Tengah

Volatilitas kurs mata uang nasional ini menjadi pemicu utama demonstrasi yang awalnya berlangsung damai. Namun, situasi berkembang menjadi tidak terkendali di beberapa wilayah, seiring meningkatnya ketegangan antara massa dan aparat keamanan.

Tekanan ekonomi tersebut juga berdampak pada stabilitas pemerintahan. Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, dilaporkan mengundurkan diri di tengah sorotan publik terhadap kebijakan moneter yang dinilai gagal meredam gejolak nilai tukar.

Seruan Reza Pahlavi dan Eskalasi Aksi Massa

Sejak 8 Januari 2026, intensitas unjuk rasa dilaporkan meningkat. Otoritas Iran mengaitkan lonjakan tersebut dengan seruan Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979. Seruan itu dinilai memberi dorongan moral bagi kelompok oposisi di dalam negeri.

Di sejumlah kota besar, demonstrasi berubah menjadi bentrokan terbuka. Massa meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah, sementara aparat keamanan berupaya membubarkan kerumunan. Laporan dari lapangan menyebutkan adanya korban jiwa, baik dari pihak demonstran maupun aparat, meski angka resmi belum dirinci secara terbuka.

Baca Juga  IRGC Serangan Terhadap Israel Terus Berlanjut Hingga Kehancuran Total Rezim Zionis

Pemerintah Blokir Internet, Klaim Situasi Terkendali

Untuk membatasi pengaruh asing dan penyebaran informasi yang dianggap provokatif, pemerintah Iran memberlakukan pembatasan akses internet di beberapa wilayah. Langkah ini disebut sebagai upaya sementara untuk menstabilkan situasi keamanan nasional.

Dalam pertemuan dengan para duta besar asing di Teheran, Araghchi menegaskan bahwa kondisi keamanan saat ini berada di bawah kendali pemerintah. “Situasi terkendali,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pembatasan internet akan tetap diberlakukan hingga keadaan benar-benar kondusif.

Pemerintah Iran menilai langkah tegas diperlukan untuk mencegah meluasnya kekerasan dan menjaga stabilitas negara di tengah tekanan ekonomi dan politik yang berlapis.

Baca laporan internasional lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait