JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Biro Investigasi Federal Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada aparat penegak hukum di negara bagian California terkait kemungkinan ancaman serangan drone.
Menurut laporan media internasional pada Rabu, 12 Maret 2026, lembaga keamanan tersebut mengingatkan adanya indikasi bahwa Iran berpotensi melakukan serangan balasan menggunakan drone terhadap target di wilayah Amerika Serikat, khususnya di California.
Federal Bureau of Investigation atau FBI menyampaikan informasi tersebut melalui dokumen peringatan yang didistribusikan kepada sejumlah departemen kepolisian di California pada akhir Februari 2026.
Dalam peringatan itu disebutkan bahwa badan intelijen baru saja memperoleh informasi mengenai dugaan rencana Iran yang disiapkan sejak awal Februari 2026.
Informasi tersebut menyebutkan bahwa Iran diduga mempertimbangkan skenario peluncuran drone dari kapal yang tidak diketahui identitasnya di perairan lepas pantai Amerika Serikat.
Serangan tersebut disebut-sebut dapat diarahkan ke target yang belum ditentukan di wilayah California, terutama jika terjadi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Seorang pejabat keamanan yang mengetahui isi peringatan tersebut menyampaikan bahwa informasi tersebut masih bersifat indikatif. Namun, aparat keamanan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman non-konvensional.
“Kami menerima informasi awal mengenai kemungkinan rencana penggunaan drone dari kapal di perairan lepas pantai. Namun hingga saat ini belum ada rincian mengenai waktu, target, maupun pihak yang akan melaksanakan serangan tersebut,” demikian ringkasan isi peringatan FBI kepada aparat penegak hukum.
Peringatan itu muncul bertepatan dengan meningkatnya eskalasi militer di kawasan Timur Tengah setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi serangan terhadap Iran.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik regional dapat meluas dan memicu tindakan balasan yang menyasar kepentingan Amerika Serikat, baik di luar negeri maupun di wilayah domestik.
Meski demikian, FBI menegaskan bahwa hingga kini belum terdapat bukti konkret mengenai kapan serangan tersebut akan terjadi atau target spesifik yang menjadi sasaran.
Karena itu, aparat keamanan di California diminta tetap meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas mencurigakan, terutama di kawasan pesisir dan wilayah strategis.
Para analis keamanan menilai penggunaan drone sebagai alat serangan lintas negara semakin menjadi perhatian global, karena teknologi tersebut relatif murah, sulit dideteksi, dan dapat diluncurkan dari berbagai platform, termasuk kapal di perairan internasional.
Jika ancaman tersebut benar terjadi, maka ini akan menjadi salah satu bentuk serangan asimetris yang berpotensi meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Situasi ini juga menunjukkan bahwa konflik geopolitik modern tidak lagi terbatas pada medan perang konvensional, tetapi juga melibatkan teknologi drone, operasi siber, serta ancaman keamanan lintas wilayah.
Untuk saat ini, aparat keamanan di Amerika Serikat masih memantau perkembangan intelijen terkait kemungkinan ancaman tersebut sambil memastikan kesiapan sistem keamanan nasional.
Baca berita internasional lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com.
(SJ)






