JurnalLugas.Com — Lonjakan harga minyak dan bensin di Amerika Serikat pada 2026 memicu kritik tajam terhadap kebijakan energi pemerintah. Hasil survei terbaru menunjukkan sebagian besar warga menilai Presiden AS, Donald Trump, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kenaikan harga energi tersebut.
Temuan ini berasal dari jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset opini publik Morning Consult, yang dirilis pada Kamis, 12 Maret 2026.
Hampir Separuh Warga AS Salahkan Kebijakan Trump
Dalam survei tersebut, sekitar 74 persen responden menyatakan harga bensin di Amerika Serikat meningkat sepanjang 2026. Dari jumlah itu, 48 persen secara langsung menyalahkan kebijakan pemerintahan Trump sebagai penyebab utama lonjakan harga bahan bakar.
Sementara itu, sebagian responden memiliki pandangan berbeda. Sekitar 16 persen menyebut perusahaan minyak dan gas sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebanyak 13 persen menilai faktor pasar global sebagai pemicu kenaikan harga energi.
Adapun 11 persen responden menyalahkan mantan Presiden AS, Joe Biden.
Survei tersebut dilakukan secara daring terhadap 1.002 orang dewasa di Amerika Serikat dengan margin kesalahan sekitar tiga poin persentase.
Harga Bensin Tembus 3,6 Dolar per Galon
Data terbaru menunjukkan harga rata-rata bensin di Amerika Serikat pada 12 Maret 2026 mencapai sekitar 3,6 dolar AS per galon atau sekitar Rp61 ribu. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran 2,9 dolar AS per galon sebelum meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan harga energi ini juga berkaitan dengan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Tehran.
Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Gangguan Jalur Minyak Dunia
Ketegangan militer di kawasan tersebut turut berdampak pada distribusi energi global. Salah satu jalur strategis pengiriman minyak dunia, yakni Selat Hormuz, dilaporkan sempat mengalami gangguan serius akibat meningkatnya risiko keamanan.
Gangguan ini membuat pasar energi global bergejolak dan memicu kenaikan harga minyak yang kemudian berdampak langsung pada harga bensin di Amerika Serikat.
Pemerintah AS: Dampak Energi Hanya Sementara
Di tengah kritik publik, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyatakan bahwa gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz hanya bersifat sementara.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga energi merupakan konsekuensi dari operasi militer yang dijalankan pemerintah.
Menurutnya, lonjakan harga energi saat ini hanyalah “harga kecil” yang harus dibayar demi operasi yang diyakini akan membawa perubahan besar terhadap dinamika geopolitik global.
Namun demikian, hasil survei menunjukkan sebagian besar warga Amerika tetap menilai kebijakan pemerintah menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga minyak dan bensin di dalam negeri.
Baca berita nasional dan internasional lainnya di https://JurnalLugas.Com.
(HD)






