JurnalLugas.Com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan serangan besar-besaran ke sejumlah target strategis di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat, Selasa (17/3/2026).
Dalam pernyataan resminya, IRGC mengungkapkan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang lanjutan operasi militer bertajuk “True Promise 4” yang menyasar wilayah utara hingga pusat Israel.
Sejumlah kota yang menjadi target di antaranya termasuk Tel Aviv, Jerusalem bagian barat, serta wilayah lain seperti Nahariyya dan Bet Shemesh. Selain itu, serangan juga diarahkan ke sejumlah instalasi militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara IRGC dalam keterangannya menyebut operasi ini sebagai respons langsung atas aksi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya diluncurkan pada akhir Februari lalu.
“Ini adalah gelombang ke-58 dari operasi yang kami lakukan, menyasar titik-titik strategis di wilayah pendudukan serta fasilitas militer AS,” ujar perwakilan IRGC dalam pernyataan singkatnya.
Lebih lanjut, IRGC mengklaim telah menargetkan sejumlah pangkalan penting, termasuk pangkalan AS di Irak, fasilitas militer di Kuwait, Arab Saudi, serta armada laut Amerika di kawasan Teluk.
Beberapa target yang disebutkan meliputi pangkalan Victoria di Irak, pangkalan udara Ali al-Salem di Kuwait, serta pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi. Selain itu, sasaran juga mencakup armada kelima Angkatan Laut AS yang beroperasi di kawasan strategis Timur Tengah.
Dalam operasi tersebut, Iran dilaporkan mengerahkan berbagai jenis rudal canggih dengan daya hancur tinggi. Di antaranya adalah rudal Khorramshahr yang memiliki hulu ledak seberat hingga dua ton, serta rudal Ghadir yang mampu membawa lebih dari satu hulu ledak.
Tak hanya itu, Iran juga menggunakan rudal generasi terbaru seperti Fattah dan Kheibar Shekan, yang diklaim memiliki kemampuan penetrasi tinggi terhadap sistem pertahanan udara modern.
Pengamat militer menilai, eskalasi ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam intensitas konflik antara Iran dengan aliansi AS-Israel. Serangan langsung ke beberapa titik sekaligus dinilai sebagai sinyal kekuatan sekaligus peringatan strategis dari Teheran.
Sementara itu, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak Washington maupun Tel Aviv terkait dampak serangan tersebut. Namun, situasi ini diperkirakan berpotensi memicu respons lanjutan yang dapat memperluas konflik di kawasan.
Ketegangan yang terus meningkat ini menjadi perhatian dunia internasional, mengingat potensi dampaknya terhadap stabilitas global, termasuk jalur energi dan keamanan regional.
Ikuti perkembangan berita internasional terbaru hanya di JurnalLugas.Com
(HD)






