JurnalLugas.Com — Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah militer Iran meluncurkan serangan ke sejumlah titik strategis pada Jumat (20/3/2026). Target yang disasar mencakup wilayah Yerusalem Barat, Haifa, hingga pangkalan udara militer Amerika Serikat di Al Dhafra, Uni Emirat Arab.
Pernyataan resmi datang dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang mengklaim serangan tersebut merupakan bagian dari fase lanjutan operasi militer mereka.
Dalam keterangannya, IRGC menyebut serangan ini sebagai bagian dari “Operasi Janji Sejati 4” yang telah memasuki tahap ke-66.
“Dalam fase terbaru operasi, sejumlah target strategis di Yerusalem Barat, Haifa, serta pangkalan militer AS Al Dhafra berhasil dihantam,” ujar pernyataan resmi IRGC yang dirilis Jumat.
Rudal Balistik dan Drone Dikerahkan
Serangan ini tidak dilakukan secara sembarangan. Iran dilaporkan mengerahkan berbagai jenis rudal balistik canggih seperti Kheibar Shekan, Zolfaghar, dan Qadr.
Selain itu, sejumlah drone tempur juga dilibatkan untuk meningkatkan efektivitas serangan ke target-target militer dan strategis.
Langkah ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam taktik militer Iran, yang kini mengombinasikan serangan rudal jarak jauh dengan teknologi pesawat nirawak.
Respons atas Operasi Gabungan AS-Israel
Serangan Iran disebut sebagai bentuk balasan atas operasi militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Operasi tersebut awalnya diklaim sebagai langkah pencegahan terhadap potensi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, pernyataan lanjutan dari kedua negara mengindikasikan tujuan yang lebih luas, termasuk dorongan perubahan kekuasaan di Teheran.
Situasi ini memperburuk eskalasi konflik yang sebelumnya sudah berada di titik rawan.
Konflik ini telah menimbulkan dampak besar di dalam negeri Iran. Pada hari pertama serangan gabungan tersebut, Iran mengklaim kehilangan tokoh penting, yakni Ali Khamenei.
Selain itu, sebuah sekolah perempuan di wilayah selatan Iran dilaporkan hancur akibat serangan, menambah panjang daftar korban sipil.
Pihak Iran memperkirakan jumlah korban tewas telah melampaui 1.300 orang, meskipun angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Timur Tengah di Ambang Eskalasi Lebih Luas
Serangan terbaru ini menandai babak baru dalam konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Dengan keterlibatan langsung berbagai pihak dan penggunaan senjata canggih, risiko konflik regional yang lebih luas semakin meningkat.
Pengamat menilai, tanpa adanya intervensi diplomatik yang serius, situasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik terbuka berskala besar di kawasan Timur Tengah.
Baca berita selengkapnya di JurnalLugas.Com
(SF)






