JurnalLugas.Com — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS meluncurkan serangan terbatas ke wilayah selatan Iran pada Senin, 25 Mei 2026. Operasi militer itu disebut menyasar fasilitas peluncuran rudal serta kapal milik Iran yang diduga tengah melakukan aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan serangan dilakukan sebagai langkah pertahanan untuk melindungi personel militer AS dari ancaman yang dianggap semakin meningkat di kawasan strategis Timur Tengah tersebut.
Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, mengatakan operasi militer dilakukan secara terukur di wilayah Bandar Abbas, yang dikenal sebagai salah satu pangkalan utama angkatan laut Iran.
“Pasukan AS melaksanakan tindakan defensif guna menghadapi ancaman terhadap personel kami. Operasi difokuskan pada lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga menebar ranjau,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Serangan tersebut dilaporkan menghantam dua kapal milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC serta satu lokasi sistem rudal darat-ke-udara. Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya empat orang tewas, meski jumlah korban keseluruhan hingga kini belum diumumkan secara resmi.
Situasi memanas terjadi setelah intelijen AS mendeteksi aktivitas kapal Iran yang disebut sedang menempatkan ranjau di kawasan Selat Hormuz. Selain itu, sebuah sistem rudal Iran juga disebut mengarahkan target ke pesawat tempur Amerika yang tengah beroperasi di kawasan tersebut.
Seorang pejabat senior AS menyebut operasi militer itu bersifat terbatas dan tidak dimaksudkan untuk mengakhiri gencatan senjata tidak resmi yang selama beberapa pekan terakhir berlangsung antara Washington dan Teheran.
Meski demikian, perkembangan terbaru ini memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi konflik lebih luas di Timur Tengah, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.
Presiden AS Donald Trump mengatakan jalur diplomasi dengan Iran masih terus berjalan. Namun, ia juga memperingatkan bahwa Washington siap melancarkan operasi militer yang lebih besar apabila perundingan mengalami kegagalan.
“Pembicaraan berjalan cukup baik, tetapi jika gagal maka respons kami akan jauh lebih kuat dibanding sebelumnya,” kata Trump kepada wartawan.
Trump juga mengungkapkan bahwa uranium yang telah diperkaya milik Iran nantinya akan dimusnahkan setelah diserahkan kepada pihak AS, baik di lokasi penyimpanan saat ini maupun di tempat lain yang disepakati kedua pihak.
Namun pernyataan tersebut langsung dibantah media semiresmi Iran, Tasnim. Pemerintah Iran disebut tidak menyetujui pemindahan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ke luar negeri.
Sejumlah analis geopolitik menilai situasi ini menunjukkan hubungan AS-Iran masih berada dalam fase rapuh. Walau diplomasi belum sepenuhnya berhenti, aksi militer terbatas berpotensi memperbesar ketidakpercayaan di antara kedua negara.
Pengamat hubungan internasional menyebut konflik terbuka kemungkinan masih dapat dihindari selama komunikasi diplomatik tetap berlangsung. Namun aktivitas militer di kawasan Teluk tetap menjadi perhatian dunia karena berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan harga energi internasional.
Baca berita internasional dan geopolitik terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






