Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 8 Persen

JurnalLugas.Com – Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak mentah dunia mencatat lonjakan tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026).

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya pasokan minyak internasional.

Bacaan Lainnya

Data perdagangan menunjukkan minyak mentah Brent ditutup menguat 7,91 persen ke level USD90,74 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 6,56 persen hingga berada di posisi USD84,46 per barel.

Kenaikan tersebut menandai salah satu lonjakan harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus memperlihatkan tingginya sensitivitas pasar energi terhadap perkembangan situasi geopolitik di kawasan penghasil minyak dunia.

Pelaku pasar menilai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu kelancaran distribusi minyak mentah, terutama jika konflik terus meluas dan memengaruhi jalur logistik maupun infrastruktur energi strategis.

Baca Juga  Harga Minyak Mentah Indonesia Melesat Tajam, ICP Maret 2026 Tembus 102 Dolar per Barel

Selain faktor geopolitik, sentimen positif harga minyak juga didorong oleh laporan pemerintah Amerika Serikat yang menunjukkan persediaan minyak mentah domestik mengalami penurunan hingga menyentuh level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Berkurangnya stok minyak di negara konsumen terbesar dunia tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pasokan global akan semakin ketat apabila permintaan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Di sisi lain, perhatian pasar tertuju pada perkembangan terbaru di Timur Tengah setelah Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran di wilayah Irak.

Langkah tersebut dilakukan setelah kedua negara menuding kelompok itu berada di balik serangan pesawat nirawak yang menyasar fasilitas minyak Arab Saudi.

Insiden tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.

Analis menilai setiap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah hampir selalu memberikan dampak langsung terhadap pergerakan harga minyak.

Pasalnya, wilayah tersebut memiliki kontribusi besar terhadap pasokan minyak global sehingga setiap potensi gangguan produksi maupun distribusi akan segera direspons oleh pelaku pasar.

Baca Juga  Harga Minyak Mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent Naik Tipis Investor Tunggu Data Inflasi PCE Amerika Serikat

Apabila situasi keamanan tidak segera mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi, mulai dari biaya transportasi, industri manufaktur, hingga tekanan inflasi di sejumlah negara yang bergantung pada impor energi.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia menjadi perkembangan yang patut dicermati karena dapat berdampak terhadap biaya energi, subsidi pemerintah, serta pergerakan harga sejumlah komoditas di dalam negeri apabila tren penguatan berlangsung dalam jangka waktu lebih panjang.

Pelaku pasar kini menunggu perkembangan situasi geopolitik berikutnya serta kebijakan negara-negara produsen minyak yang dapat menentukan arah pergerakan harga dalam beberapa pekan mendatang.

Ikuti berita ekonomi, bisnis, energi, dan perkembangan global terbaru hanya di JurnalLugas.Com.

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait