Serangan Udara AS-Israel Hantam Bandar Abbas, Jalur Minyak Dunia Selat Hormuz Terancam Lumpuh

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel menghantam fasilitas pelabuhan strategis di Iran. Target serangan dilaporkan berada di kota pesisir selatan Bandar Abbas, tepatnya di jalur vital Selat Hormuz yang menjadi nadi distribusi energi dunia.

Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, serangan tersebut menyasar Pelabuhan Shahid Haghani, sebuah pelabuhan yang selama ini difungsikan untuk aktivitas penumpang dan perdagangan komersial.

Bacaan Lainnya

Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan, Ahmad Nafisi, membenarkan insiden tersebut. Dalam pernyataan singkatnya melalui kantor berita resmi, ia menyebut bahwa serangan dilakukan oleh pasukan AS dan Israel.

“Tim penyelamat dan pemadam kebakaran telah dikerahkan ke lokasi untuk menangani dampak serangan,” ujarnya singkat.

Meski demikian, hingga kini belum ada informasi rinci terkait jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut.

Baca Juga  Ali Larijani, Iran Tak Berunding dengan Amerika dan Israel, Serangan Balasan Lumatkan Trump Netanyahu

Eskalasi Konflik Sejak Februari

Serangan ini menjadi bagian dari rangkaian eskalasi militer yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Otoritas Iran mengklaim bahwa serangan udara yang dilakukan AS dan Israel sejak 28 Februari telah menyebabkan lebih dari 1.300 korban jiwa.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa negara di kawasan, termasuk Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Di sisi lain, data resmi dari pemerintah AS menyebutkan bahwa sedikitnya 13 personel militernya tewas sejak konflik ini pecah.

Energi dan Pelayaran Terganggu

Konflik yang terus memanas ini tidak hanya berdampak secara militer, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global. Jalur Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia kini berada dalam tekanan.

Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut memicu kekhawatiran pasar dan mendorong kenaikan harga energi secara signifikan di pasar internasional. Para analis menilai, jika konflik terus berlanjut, potensi krisis energi global semakin sulit dihindari.

Baca Juga  Douglas Macgregor Eks Penasihat Pentagon Bantu Israel Serang Iran Bisa Seret AS ke Perang Dunia III

Situasi ini juga meningkatkan risiko terhadap keamanan pelayaran internasional, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara.

Ketidakpastian Masih Tinggi

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda deeskalasi dari kedua pihak. Serangan balasan yang terus berlangsung memperlihatkan bahwa konflik berpotensi semakin meluas dan melibatkan lebih banyak aktor regional maupun global.

Pengamat menilai, stabilitas kawasan sangat bergantung pada upaya diplomasi internasional dalam meredakan ketegangan yang kian memuncak.

Baca selengkapnya hanya di JurnalLugas.Com

PJ

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait