Iran Kunci Selat Hormuz, Kapal Dibatasi, Tarif Tembus Rp34 Miliar per Tanker

JurnalLugas.Com — Langit geopolitik Timur Tengah kembali berubah arah. Di tengah meredanya ketegangan, Iran justru mengambil langkah strategis yang memantik perhatian dunia: membatasi jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz sekaligus memberlakukan tarif tinggi bagi kapal tanker raksasa.

Kebijakan ini bukan sekadar pengaturan lalu lintas laut. Ini adalah sinyal kuat bahwa jalur energi paling vital di dunia kini berada dalam kendali ketat Teheran.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber maritim internasional, Iran berencana hanya mengizinkan sekitar 12 kapal per hari melintas di Selat Hormuz. Angka ini jauh di bawah kapasitas normal jalur tersebut yang selama ini menjadi nadi distribusi energi global.

Tak hanya itu, biaya yang dikenakan kepada kapal tanker disebut bisa mencapai hingga 2 juta dolar AS atau sekitar Rp34,2 miliar per unit. Angka fantastis ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri energi dan logistik global.

Seorang analis energi regional yang enggan disebutkan namanya menyebut kebijakan ini sebagai “mekanisme kontrol ekonomi sekaligus tekanan politik.” Ia menambahkan, pembatasan tersebut berpotensi menciptakan efek domino pada harga minyak dunia.

Baca Juga  Trump Ngambek Soal Tarif Selat Hormuz oleh Iran, Joint Venture Setuju

“Ketika akses dipersempit dan biaya melonjak, pasar akan merespons dengan kenaikan harga. Ini hukum dasar suplai dan permintaan,” ujarnya.

Di lapangan, para pemilik kapal dari berbagai negara dilaporkan tengah melakukan negosiasi intensif dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Proses ini disebut menjadi syarat utama agar kapal mereka mendapatkan izin melintas.

Selain itu, Iran juga menerapkan jalur khusus bagi kapal yang diizinkan lewat. Setiap kapal wajib mengikuti rute yang telah ditentukan serta mengantongi izin resmi, memperketat kontrol atas pergerakan di selat tersebut.

Langkah ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah pengumuman mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan.

Kesepakatan tersebut sempat memicu harapan bahwa ketegangan di kawasan akan mereda sepenuhnya. Terlebih, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Meski secara resmi dibuka, akses ke selat tersebut kini tidak sepenuhnya bebas.

Selat Hormuz sendiri memegang peran krusial dalam peta energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, termasuk produk petroleum dan gas alam cair (LNG), melewati jalur sempit ini setiap harinya.

Baca Juga  Serangan Drone Iran Hantam Basis Militer AS di Kuwait, Puluhan Tentara Luka Parah

Dengan posisi yang begitu strategis, setiap kebijakan yang diterapkan Iran otomatis berdampak luas, mulai dari harga energi hingga stabilitas ekonomi global.

Pengamat hubungan internasional menilai langkah Iran ini sebagai bentuk “pengendalian berbasis kepentingan nasional.” Di satu sisi, membuka jalur untuk menjaga stabilitas global. Di sisi lain, tetap mempertahankan leverage terhadap negara-negara besar.

Situasi ini menempatkan pelaku industri energi dalam posisi sulit. Mereka harus menimbang antara membayar biaya tinggi atau mencari jalur alternatif yang jauh lebih panjang dan mahal.

Jika kebijakan ini berlangsung dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin akan terjadi perubahan besar dalam pola distribusi energi dunia.

Kini, mata dunia tertuju pada Selat Hormuz sebuah jalur sempit yang kembali membuktikan betapa besar pengaruhnya terhadap denyut ekonomi global.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait