JurnalLugas.Com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangkaian ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah selatan Iran pada Minggu (12/7/2026).
Insiden tersebut muncul tidak lama setelah militer Amerika Serikat mengumumkan pelaksanaan gelombang terbaru operasi militernya terhadap Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di berbagai lokasi strategis, termasuk wilayah pesisir yang berdekatan dengan Teluk Persia.
Hingga saat ini, otoritas Iran belum melaporkan adanya korban jiwa akibat rangkaian serangan tersebut.
Ledakan Terjadi di Sejumlah Kota
Berdasarkan laporan media Iran, ledakan terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Hormozgan, termasuk Bandar Abbas, Sirik, Jask, dan kawasan dekat Chabahar.
Selain itu, suara ledakan juga dilaporkan terdengar di Asaluyeh dan Bandar Dayyer yang berada di wilayah selatan negara tersebut.
Sebuah barak militer di bagian selatan Provinsi Bushehr disebut turut menjadi sasaran serangan udara.
Di Provinsi Khuzestan, ledakan juga dilaporkan terjadi di Desa Shah Abdollah.
Sementara sejumlah kota seperti Hendijan, Mahshahr, dan Abadan disebut ikut terdampak dalam rangkaian serangan tersebut.
Pulau Qeshm yang berada di kawasan Teluk Persia juga dilaporkan mendengar suara ledakan, meski belum ada rincian mengenai tingkat kerusakan yang terjadi.
Belum Ada Laporan Korban Jiwa
Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi resmi mengenai korban meninggal maupun korban luka akibat insiden tersebut.
Otoritas setempat masih melakukan pendataan terhadap dampak serangan, termasuk kemungkinan kerusakan pada fasilitas militer maupun infrastruktur di sejumlah wilayah.
AS Sebut Operasi untuk Lindungi Jalur Pelayaran
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan gelombang ketiga operasi militer terhadap Iran dalam sepekan terakhir.
Menurut CENTCOM, operasi dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.
Militer Amerika Serikat menyatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi jalur pelayaran internasional tersebut.
“Operasi ini merupakan bagian dari langkah untuk melindungi kebebasan navigasi dan keamanan pelayaran internasional,” demikian pernyataan singkat CENTCOM.
Selat Hormuz Masih Jadi Titik Panas
Meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz kembali memicu perhatian dunia internasional.
Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi distribusi energi global.
Hingga kini, situasi keamanan di kawasan masih terus dipantau berbagai negara, sementara upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran masih menghadapi tantangan.
Baca berita internasional terbaru dan analisis mendalam lainnya di JurnalLugas.Com: https://JurnalLugas.Com
(Handoko)






