AS Kembali Serang Iran, Setelah Selat Hormuz Ditutup IRGC

JurnalLugas.Com – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat mengumumkan operasi militer terbaru terhadap Iran.

Serangan yang disebut sebagai gelombang ketiga dalam sepekan itu dilakukan menyusul insiden terhadap sebuah kapal niaga di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.

Bacaan Lainnya

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer dimulai pada Sabtu (11/7/2026) malam waktu setempat atas arahan Presiden Donald Trump sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata.

Menurut keterangan CENTCOM, tindakan tersebut merupakan respons atas serangan yang diduga dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal kargo M/V GFS Galaxy saat melintasi Selat Hormuz.

Kapal Niaga Rusak, Satu Awak Dilaporkan Hilang

Insiden di jalur pelayaran internasional itu menyebabkan kapal mengalami kerusakan serius, termasuk kebakaran di atas kapal dan gangguan pada ruang mesin yang membuat pelayaran tidak dapat dilanjutkan.

Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut rudal yang ditembakkan ke arah kapal mengakibatkan kerusakan signifikan.

Baca Juga  Ribuan Warga Myanmar Diusir dari AS Mulai Januari, Temporary Protected Status (TPS) Resmi Dicabut

Selain kerusakan material, satu awak sipil dilaporkan hilang dan proses pencarian masih terus berlangsung.

Peristiwa tersebut terjadi hanya sehari setelah Washington meminta Teheran memberikan jaminan keamanan bagi kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.

Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz

Di sisi lain, IRGC menyampaikan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan kepada kapal yang melintas di jalur yang mereka anggap tidak sesuai.

Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim hanya melepaskan tembakan peringatan setelah kapal tidak mengubah arah pelayaran.

“Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan berikutnya dan sampai intervensi Amerika di kawasan berakhir,” demikian pernyataan singkat IRGC.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas jalur distribusi minyak dan perdagangan internasional yang selama ini sangat bergantung pada Selat Hormuz.

Upaya Diplomasi Belum Membuahkan Hasil

Sebelum insiden tersebut, Oman memfasilitasi perundingan yang melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, serta sejumlah pejabat dari Qatar.

Pertemuan itu bertujuan mencari solusi atas meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Seorang diplomat yang mengetahui jalannya pembahasan mengatakan Oman mengusulkan pembukaan kembali seluruh jalur pelayaran, termasuk akses penuh melalui jalur selatan yang berada di wilayah perairannya.

Namun, delegasi Iran disebut belum mengambil keputusan dan memilih kembali ke Teheran untuk melakukan konsultasi lebih lanjut.

AS Tegaskan Akan Terus Melindungi Jalur Pelayaran

CENTCOM menilai Iran belum memenuhi komitmen yang sebelumnya dibahas terkait keamanan pelayaran internasional.

Dalam pernyataannya, militer Amerika Serikat menegaskan akan terus mengambil langkah untuk melindungi kapal-kapal sipil yang melintasi Selat Hormuz.

“Respons kami ditujukan untuk melemahkan kemampuan pihak yang mengancam keselamatan pelaut sipil dan kebebasan navigasi,” demikian pernyataan singkat CENTCOM.

Ketegangan terbaru ini kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat perhatian dunia. Jalur laut tersebut merupakan salah satu koridor utama distribusi minyak mentah global, sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memengaruhi rantai pasok energi dan stabilitas ekonomi internasasional.

Baca berita internasional terbaru dan analisis lainnya di JurnalLugas.Com: https://JurnalLugas.Com

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait