Paus Leo XIV “Jangan Jadikan Agama Alat Perang dan Kekuasaan”

JurnalLugas.Com — Suara moral kembali menggema dari jantung Afrika. Dalam kunjungan bersejarah ke wilayah konflik di Bamenda, Paus Leo XIV melontarkan kritik tajam terhadap para penguasa yang dinilainya telah merusak tatanan dunia melalui perang dan eksploitasi berkepanjangan.

Di tengah antusiasme ribuan warga yang memadati jalanan kota, Paus membawa pesan yang tidak sekadar simbolik, melainkan penuh tekanan moral: agama tidak boleh diperalat sebagai legitimasi kekerasan, apalagi untuk kepentingan politik dan ekonomi.

Bacaan Lainnya

Wilayah Bamenda sendiri telah lama menjadi titik panas konflik separatis yang berlangsung hampir satu dekade. Ketegangan sosial, kekerasan bersenjata, dan krisis kemanusiaan menjadi latar yang memperkuat urgensi pesan perdamaian yang dibawa Paus.

Dalam pidatonya yang disampaikan Sabtu (18/4/2026), Paus menegaskan bahwa manipulasi agama untuk kepentingan kekuasaan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai suci.

“Berbahagialah mereka yang membawa damai, tetapi celakalah mereka yang menyeret agama demi ambisi militer, ekonomi, atau politik,” tegasnya.

Seruan tersebut disampaikan dengan nada yang tegas namun penuh empati. Ia juga memberikan penguatan moral kepada kelompok masyarakat yang selama ini menjadi korban konflik mereka yang miskin, tertindas, dan terus mendambakan keadilan.

“Kalian yang haus akan keadilan, yang tetap lembut di tengah penderitaan, kalian adalah terang dunia,” ujarnya.

Tak hanya menyampaikan kritik, Paus juga menginisiasi langkah konkret melalui dialog lintas iman. Di St. Joseph Cathedral, Bamenda, ia memimpin pertemuan yang mempertemukan tokoh tradisional, pemuka Kristen, Muslim, serta biarawati Katolik.

Forum tersebut menjadi simbol penting bahwa solusi konflik tidak bisa berdiri di atas satu identitas saja. Kolaborasi lintas agama dinilai sebagai kunci untuk membangun kembali kepercayaan sosial yang telah lama terkoyak.

Seorang tokoh lintas agama yang hadir dalam pertemuan itu menyampaikan bahwa pendekatan Paus membuka ruang dialog yang selama ini tertutup oleh ketegangan. “Kami butuh suara netral yang kuat untuk mengingatkan bahwa kemanusiaan lebih besar dari perbedaan,” ujarnya.

Kunjungan ini sekaligus menandai dorongan baru bagi komunitas internasional untuk tidak hanya menjadi penonton dalam konflik berkepanjangan. Paus Leo XIV menyerukan perubahan arah global meninggalkan pola eksploitasi dan kekerasan menuju masa depan yang lebih adil dan damai.

Pesan dari Bamenda bukan sekadar retorika keagamaan, melainkan peringatan keras bahwa ketika agama disalahgunakan, dampaknya bukan hanya konflik, tetapi juga hilangnya kemanusiaan itu sendiri.

Di tengah dunia yang masih dilanda perang dan ketimpangan, suara seperti ini menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan utopia melainkan pilihan yang harus diperjuangkan bersama.

Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait