JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia kembali menunjukkan reli tajam pada Jumat, 24 April 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan strategis Selat Hormuz. Lonjakan ini menegaskan bahwa pasar energi global kini bergerak bukan hanya oleh faktor ekonomi, tetapi juga tekanan militer dan diplomatik yang belum mereda.
Di pasar Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni ditutup naik 3,1 persen ke level USD105,07 per barel di ICE Futures Europe. Sementara itu, di Amerika Serikat, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 3,11 persen menjadi USD95,85 per barel di New York Mercantile Exchange.
Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan mingguan yang cukup signifikan, sekaligus mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Ketegangan Militer Jadi Pemicu Utama
Fokus utama pasar kini tertuju pada dinamika konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas. Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi sekitar sepertiga minyak dunia, dilaporkan masih dalam kondisi tertutup akibat kebuntuan politik kedua negara.
Situasi diperburuk oleh laporan media yang menyebut salah satu negosiator utama Iran mengundurkan diri, menambah ketidakpastian terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai.
Seorang analis dari ING Group menilai pasar mulai kehilangan harapan terhadap solusi cepat.
“Pasar harus menyesuaikan ekspektasi. Saat harapan memudar, realitas gangguan pasokan akan lebih dominan. Jika tidak ada kemajuan, pasar akan semakin kebal terhadap berita, tetapi harga berpotensi terus naik,” ujarnya dalam catatan riset.
Eskalasi Pernyataan Politik dan Operasi Militer
Presiden Donald Trump turut memperkeruh situasi dengan pernyataan tegas terkait aktivitas militer di kawasan tersebut. Ia menginstruksikan angkatan laut AS untuk mengambil tindakan keras terhadap ancaman di perairan Selat Hormuz.
Dalam pernyataan publiknya di platform Truth Social, Trump menegaskan operasi pembersihan ranjau akan ditingkatkan secara signifikan.
Langkah ini muncul setelah laporan dari Axios yang mengungkap dugaan penambahan ranjau laut oleh Iran di jalur strategis tersebut, berdasarkan sumber pejabat AS.
Aksi Saling Tahan Kapal Peruncing Krisis
Ketegangan juga tercermin dari aksi saling menahan kapal di kawasan perairan internasional. Militer AS dilaporkan telah menahan sebuah kapal tanker yang diduga berafiliasi dengan Iran di Samudra Hindia. Rekaman operasi tersebut dirilis oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Iran juga merilis video yang menunjukkan pasukannya menaiki kapal kargo di sekitar Selat Hormuz, mempertegas eskalasi konflik yang semakin terbuka.
Harga Bisa Terus Naik
Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan skenario terburuk, termasuk gangguan distribusi energi global dalam jangka menengah. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara, termasuk Asia.
Jika ketegangan terus berlanjut tanpa solusi diplomatik, harga minyak berpotensi menembus level yang lebih tinggi, memicu efek domino terhadap inflasi global dan biaya energi.
Di tengah situasi ini, pasar kini berada dalam fase “wait and see”, menunggu apakah diplomasi akan kembali mengambil alih atau justru konflik semakin meluas.
Baca analisis ekonomi dan energi lainnya di https://JurnalLugas.Com
(ED)






