IHSG Pekan Ini Diproyeksi Sideways, Ujian Level 7.000 Dipengaruhi Sentimen Global

JurnalLugas.Com — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan terakhir April 2026 diperkirakan belum menemukan arah kuat. Tekanan dari faktor global masih menjadi penentu utama, membuat indeks berpotensi bergerak dalam rentang terbatas sambil menguji level psikologis penting.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai pasar saham Indonesia sedang berada dalam fase konsolidasi. Menurutnya, pelaku pasar cenderung menahan posisi sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter global.

Bacaan Lainnya

“IHSG kemungkinan bergerak mendatar dan berpeluang menguji area 7.000 sebagai level psikologis penting dalam waktu dekat,” ujar Ratna dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Fokus Utama, Kebijakan Bank Sentral Dunia

Sentimen terbesar pekan ini datang dari agenda bank sentral global. Investor menanti keputusan suku bunga dari sejumlah otoritas moneter utama yang dinilai akan menentukan arah aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) milik bank sentral Amerika Serikat diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen. Sikap “wait and see” ini mencerminkan kehati-hatian terhadap inflasi yang belum sepenuhnya stabil.

Di sisi lain, bank sentral Eropa dan Inggris juga diproyeksikan mengambil langkah serupa dengan menahan suku bunga masing-masing di level 2,15 persen dan 3,75 persen.

Sementara itu, Bank of Japan diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah di 0,75 persen, meskipun tekanan inflasi domestik mulai meningkat. Kondisi ini menunjukkan perbedaan arah kebijakan yang masih terjadi antar kawasan ekonomi utama dunia.

Data Ekonomi Global Jadi Penentu Arah

Selain kebijakan moneter, pasar juga akan dibanjiri rilis data ekonomi penting. Dari Amerika Serikat, investor menunggu sejumlah indikator seperti kepercayaan konsumen, data perumahan, hingga Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026.

Tak hanya itu, data personal income, personal spending, serta indeks inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) juga akan menjadi perhatian utama sebagai acuan kebijakan The Fed selanjutnya.

Dari kawasan Eropa, pelaku pasar akan mencermati rilis PDB, tingkat inflasi, serta data pengangguran yang mencerminkan kekuatan pemulihan ekonomi di kawasan tersebut.

Tekanan Global Masih Terasa di Bursa

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, mayoritas bursa saham Eropa melemah. Tekanan terlihat merata di berbagai indeks utama, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi dan arah kebijakan moneter.

Sementara di Wall Street, pergerakan indeks cenderung bervariasi. Indeks teknologi masih menunjukkan penguatan, namun sebagian indeks utama lainnya mengalami koreksi tipis.

Di dalam negeri, IHSG justru mencatat pelemahan signifikan pada akhir pekan lalu dengan penurunan lebih dari 3 persen. Koreksi ini turut menyeret indeks saham unggulan LQ45, menandakan tekanan jual yang cukup kuat di pasar.

Strategi Investor, Waspada dan Selektif

Melihat kondisi tersebut, investor disarankan untuk tetap berhati-hati. Pergerakan sideways membuka peluang trading jangka pendek, namun risiko volatilitas tetap tinggi seiring derasnya sentimen global.

Ratna menekankan pentingnya selektivitas dalam memilih saham, terutama pada sektor yang memiliki fundamental kuat dan relatif tahan terhadap gejolak eksternal.

“Idealnya investor fokus pada saham dengan kinerja stabil serta memiliki katalis domestik yang jelas,” ujarnya singkat.

Dengan padatnya agenda global pekan ini, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap kombinasi kebijakan moneter dan data ekonomi. Level 7.000 kini menjadi titik krusial yang akan menguji kekuatan pasar dalam jangka pendek.

Baca selengkapnya berita ekonomi dan pasar modal lainnya di JurnalLugas.Com https://jurnallugas.com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait