JurnalLugas.Com — Ketegangan di wilayah selatan Suriah kembali meningkat setelah pasukan Israel dilaporkan memasuki sejumlah kawasan permukiman di Provinsi Daraa. Kehadiran militer tersebut memicu kekhawatiran warga karena berdampak langsung terhadap aktivitas harian masyarakat, termasuk akses transportasi dan kegiatan pendidikan.
Informasi yang beredar dari otoritas lokal menyebutkan bahwa kendaraan militer Israel bergerak menuju dua desa di wilayah perbatasan, yakni Maariya dan Al-Arida. Dalam operasi tersebut, aparat bersenjata mendirikan sejumlah titik pemeriksaan yang menyebabkan lalu lintas warga mengalami hambatan selama beberapa jam.
Kepala Desa Maariya, Abedin Muwafaq Mahmoud, mengungkapkan bahwa kendaraan militer memasuki area desa sejak dini hari. Menurutnya, pasukan ditempatkan di sekitar akses utama desa dan melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang melintas.
“Pergerakan mereka terjadi sejak pagi dan sejumlah kendaraan warga diperiksa,” ujar Mahmoud dalam keterangannya.
Situasi serupa juga terjadi di Al-Arida. Pos pemeriksaan yang dibangun di pintu masuk desa membuat arus mobilitas warga melambat. Warga yang hendak bepergian maupun menjalankan aktivitas ekonomi harus melalui proses pemeriksaan yang cukup ketat.
Dampak operasi tersebut tidak hanya dirasakan oleh para pengendara. Sejumlah pelajar yang sedang mengikuti jadwal ujian sekolah dilaporkan mengalami keterlambatan akibat antrean kendaraan di titik pemeriksaan.
Pemerintah desa menyebut kondisi itu menimbulkan keresahan di tengah masyarakat karena terjadi pada momen penting bagi para siswa. Orang tua dan tenaga pengajar khawatir gangguan mobilitas dapat memengaruhi konsentrasi peserta ujian.
Warga setempat juga mengaku cemas dengan meningkatnya aktivitas militer di sekitar kawasan permukiman. Mereka berharap situasi keamanan dapat segera kembali normal agar aktivitas sehari-hari tidak terus terganggu.
Daraa dan Quneitra Jadi Titik Rawan
Wilayah Daraa dan Quneitra selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kawasan yang paling sering mengalami insiden keamanan terkait konflik perbatasan. Kedua provinsi tersebut berada di dekat area yang sensitif secara militer dan kerap menjadi lokasi operasi maupun patroli lintas batas.
Sejumlah laporan sebelumnya mencatat adanya penggerebekan, penahanan warga, hingga penghancuran bangunan yang disebut terjadi di beberapa wilayah selatan Suriah. Aktivitas tersebut terus menjadi sumber ketegangan antara Damaskus dan Tel Aviv.
Pengamat Timur Tengah menilai kondisi keamanan di kawasan perbatasan masih rentan mengalami eskalasi, terutama ketika situasi geopolitik regional sedang memanas.
Pemerintah Suriah kembali menyuarakan keberatan atas aktivitas militer Israel di wilayah yang diklaim berada dalam yurisdiksi Suriah. Otoritas di Damaskus menegaskan bahwa setiap operasi tanpa persetujuan pemerintah dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara.
Selain itu, pihak Suriah juga menilai tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional dan berpotensi memperburuk stabilitas kawasan yang selama ini berupaya dipulihkan pascakonflik berkepanjangan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, masyarakat internasional terus memantau perkembangan situasi di perbatasan Suriah-Israel guna mencegah meluasnya konflik yang dapat memengaruhi keamanan regional.
Baca berita internasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






