JurnalLugas.Com — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah pemerintah Teheran menegaskan tidak akan meminta gencatan senjata maupun membuka negosiasi baru terkait konflik yang sedang berlangsung.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan negaranya siap mempertahankan diri dalam jangka waktu yang panjang menghadapi apa yang ia sebut sebagai tindakan perang yang tidak sah.
Dalam pernyataannya pada Minggu (15/3), Araghchi membantah berbagai klaim yang menyebut Iran meminta konflik dihentikan. Menurutnya, pemerintah Iran justru siap melanjutkan perlawanan jika tekanan militer terus berlanjut.
“Teheran tidak pernah meminta gencatan senjata ataupun negosiasi. Kami siap mempertahankan diri selama dibutuhkan,” ujar Araghchi.
Iran Sebut Perang Tidak Memiliki Jalan Kemenangan
Araghchi juga menyinggung posisi pemerintah Amerika Serikat yang dipimpin oleh Donald Trump. Ia menilai konflik yang terjadi tidak akan menghasilkan kemenangan bagi pihak mana pun.
Menurutnya, operasi militer yang dilakukan Washington hanya akan memperpanjang ketegangan di kawasan tanpa memberikan solusi nyata.
Ia menegaskan Iran tidak melihat alasan untuk kembali duduk di meja perundingan dengan AS. Pasalnya, ketika proses diplomasi masih berlangsung sebelumnya, serangan justru tetap terjadi.
Dalam penjelasannya, Araghchi menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa dialog tidak dihormati oleh pihak lawan.
Iran Tegaskan Tidak Menutup Selat Hormuz
Di tengah kekhawatiran global mengenai jalur energi dunia, Araghchi juga menyinggung isu strategis mengenai Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut dikenal sebagai salah satu rute penting bagi distribusi minyak dunia.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak menutup akses pelayaran di kawasan tersebut. Keputusan mengenai lalu lintas kapal, kata dia, berada di tangan otoritas militer Iran.
Menurut Araghchi, saat ini militer Iran masih mengizinkan sejumlah kapal dari berbagai negara untuk melintas di jalur tersebut.
Iran Bantah Ambisi Senjata Nuklir
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi kembali menegaskan bahwa program nuklir Iran tidak bertujuan untuk memproduksi senjata nuklir.
Ia menyebut bahwa sebelum konflik meningkat, Teheran sebenarnya telah menyetujui langkah untuk mengurangi tingkat pengayaan uranium dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Namun setelah fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran serangan, sebagian besar material nuklir yang telah diperkaya kini berada di bawah reruntuhan bangunan yang rusak.
Araghchi menyatakan bahwa saat ini pemerintah Iran tidak memiliki rencana untuk mengevakuasi kembali cadangan uranium tersebut dari lokasi yang terdampak serangan.
Situasi ini menunjukkan bahwa eskalasi konflik telah memengaruhi berbagai aspek, termasuk proses diplomasi nuklir yang sebelumnya sempat berlangsung.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat pun masih berpotensi berlanjut, sementara dunia internasional terus memantau perkembangan konflik yang berisiko memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan jalur perdagangan global.
Baca berita internasional terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
(ED)






