JurnalLugas.Com — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan belum melihat kemungkinan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam waktu dekat. Menurutnya, pertemuan baru sulit dilakukan selama kepercayaan antara kedua negara belum kembali.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan CBS, Jumat, 25 September 2026. Ia juga ditanya mengenai kemungkinan mengundang Trump ke Iran.
Pezeshkian menilai langkah tersebut belum memungkinkan karena Iran masih menghadapi tindakan yang diberlakukan Amerika Serikat.
“Sulit mempercayai mereka selama tindakan tersebut masih berlanjut,” kata Pezeshkian.
Ia juga mengakui penyelenggaraan pertemuan langsung dengan Trump akan menjadi persoalan yang tidak mudah.
Di tengah sikap Pezeshkian tersebut, jalur komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran tetap berlangsung.
Pada Selasa, 22 September 2026, Trump menyebut utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu mediator di sela-sela Sidang ke-81 Majelis Umum PBB. Pertemuan itu membahas kemungkinan kesepakatan dengan Iran.
Dua hari kemudian, Kamis, 24 September, AS dan Iran dilaporkan tengah membicarakan penghentian perang secara bertahap.
Rencana tersebut disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade ekonomi terhadap Iran.
Namun, dari sisi Iran, pertemuan langsung antara Pezeshkian dan Trump masih terbentur persoalan kepercayaan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan diplomatik belum otomatis membuka jalan bagi pertemuan tingkat pemimpin.
Berita terbaru dan perkembangan internasional lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






