Iran Tantang Trump Kirim Kapal ke Teluk Persia, IRGC Selat Hormuz Sepenuhnya di Bawah Kendali

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah pemerintah Iran menolak klaim Amerika Serikat yang menyebut kemampuan angkatan laut negara tersebut telah dihancurkan. Teheran bahkan menantang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk membuktikan pernyataannya dengan mengirim kapal perang ke kawasan Teluk Persia.

Pernyataan tegas itu disampaikan oleh juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Ali Mohammad Naini. Ia menegaskan bahwa jalur strategis energi dunia, Selat Hormuz, sepenuhnya berada dalam pengawasan militer Iran.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, Iran memiliki kedaulatan penuh atas wilayah tersebut dan siap menghadapi setiap ancaman yang datang dari pihak luar.

Dalam pernyataan singkatnya, Naini menyindir klaim Washington yang menyebut kekuatan laut Iran telah dilumpuhkan. Ia menantang balik pihak Amerika untuk membuktikan ucapan tersebut secara langsung di lapangan.

“Jika benar mereka mengklaim telah menghancurkan armada laut kami, silakan kirim kapal perang ke Teluk Persia,” ujar Naini secara singkat.

Iran Klaim Luncurkan Ratusan Rudal dan Ribuan Drone

IRGC juga mengungkapkan bahwa sejak konflik memanas, Iran telah mengerahkan kekuatan militernya secara besar-besaran. Naini mengklaim pasukan Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal serta lebih dari 3.600 drone tempur yang diarahkan ke target yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Baca Juga  Blokade Selat Hormuz Dimulai, Trump Mumet, Dunia Cemas

Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari strategi balasan terhadap operasi militer yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat.

Naini menambahkan bahwa Iran akan terus melanjutkan serangan hingga pihak yang dianggap sebagai agresor menyadari kemampuan militer dan daya tangkal sosial negara tersebut.

Menurutnya, tujuan utama operasi militer Iran adalah memberikan hukuman kepada pihak yang memulai konflik sekaligus mempertahankan kedaulatan nasional.

Konflik Memanas Sejak Serangan Gabungan Akhir Februari

Situasi kawasan mulai memanas setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut disebut menewaskan sekitar 1.300 orang.

Salah satu korban yang paling mengejutkan adalah pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sejak insiden tersebut, Iran meningkatkan respons militernya dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah wilayah di Timur Tengah, termasuk fasilitas militer dan kepentingan yang terkait dengan Amerika dan sekutunya.

Baca Juga  Kilang Mina Al-Ahmadi Kuwait Diserang Drone, Beberapa Unit Terbakar

Beberapa negara yang turut terdampak dalam eskalasi ini antara lain Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer Amerika.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru

Ketegangan juga berdampak langsung pada jalur pelayaran global. Iran dilaporkan memperketat pengawasan di Selat Hormuz sejak awal Maret.

Selat sempit ini merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Langkah Iran tersebut memicu kekhawatiran global karena setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan memperburuk stabilitas ekonomi internasional.

Hingga kini, situasi keamanan di kawasan Teluk Persia masih terus dipantau ketat oleh berbagai negara, mengingat eskalasi konflik berpotensi berkembang menjadi konfrontasi militer yang lebih luas.

Baca berita lengkap dan analisis lainnya di https://JurnalLugas.com.

(SF)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait