WHO 423 Orang Meninggal Akibat Pes, Ribuan Kasus Terdeteksi dalam 6 Tahun

JurnalLugas.Com — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap adanya ribuan laporan kasus pes pada manusia dalam periode enam tahun terakhir. Penyakit yang masih menjadi endemik di sejumlah wilayah itu tercatat menyebabkan ratusan kematian.

Dalam laporan yang disampaikan pada Selasa (29/9), WHO menyebut kasus dugaan pes pada manusia dilaporkan dari 10 negara sepanjang 2019 hingga 2025. Dari jumlah tersebut, enam negara telah melaporkan kasus yang terkonfirmasi.

Bacaan Lainnya

Secara keseluruhan, WHO menerima laporan 3.847 kasus dugaan pes dengan 423 kematian. Angka tersebut menghasilkan tingkat kematian sekitar 11 persen.

Sebagian besar laporan berasal dari Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar. Di kedua negara tersebut, pes masih ditemukan secara endemik di beberapa wilayah.

Baca Juga  Victoria Wajibkan Unggas Dikandangkan, Australia Perketat Penyebaran Flu Burung H5N1

WHO juga mengingatkan bahwa keberadaan kasus tidak hanya terbatas pada negara yang telah melaporkannya. Pes tetap berpotensi muncul di wilayah lain sehingga pengawasan menjadi bagian penting dalam pencegahan.

WHO Dorong Pengawasan Hewan Pengerat

WHO menekankan pentingnya pemantauan secara rutin terhadap populasi hewan pengerat dan hewan lainnya yang berkaitan dengan penyebaran penyakit.

Menurut WHO, pengawasan dan respons cepat diperlukan untuk menemukan kasus sedini mungkin, membatasi penularan, serta mencegah berkembangnya wabah dalam skala lebih luas.

“Pengawasan rutin dan respons cepat tetap penting untuk mendeteksi pes lebih awal dan mencegah wabah yang lebih besar,” kata WHO.

Ancaman penyakit pes juga mendapat perhatian dari akademisi Akademi Sains Rusia, Gennady Onishchenko. Ia menyebut pes sebagai salah satu penyakit infeksi yang saat ini perlu diwaspadai bersama sejumlah penyakit menular lainnya, termasuk flu, infeksi saluran pernapasan, virus corona, demam eksotis, dan kolera.

Data WHO tersebut menunjukkan bahwa meski kasus pes tidak selalu muncul sebagai wabah besar, penyakit ini masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan pengawasan berkelanjutan, terutama di wilayah yang telah dikenal sebagai daerah endemik.

Informasi lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait