JurnalLugas.Com – Perum Bulog mencatat penyerapan gabah dan beras petani menembus lebih dari 4,4 juta ton setara beras hingga November 2026.
Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia dan melampaui target pengadaan pemerintah sebesar 4 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan capaian itu setelah mengikuti rapat kerja bersama Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Minggu (8/11/2026).
“Serapan kami saat ini sudah lebih dari 4,4 juta ton setara beras,” kata Rizal.
Ia menyebut realisasi tersebut belum pernah dicapai sebelumnya. Penyerapan dalam jumlah besar merupakan bagian dari strategi pemerintah memperkuat cadangan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan global.
Antisipasi El Nino, Bulog Percepat Pembelian Gabah
Rizal menjelaskan, percepatan penyerapan sudah diarahkan sejak awal tahun setelah muncul proyeksi kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi produksi pangan.
Karena itu, jajaran pengadaan Bulog diminta memaksimalkan pembelian hasil panen petani ketika produksi masih tersedia dalam jumlah besar.
“Dengan adanya informasi pada awal-awal tahun mau ada El Nino,” Rizal menjelaskan alasan percepatan tersebut.
Kebijakan itu bertujuan mengamankan hasil panen dalam negeri sebelum potensi gangguan cuaca memengaruhi produksi. Gabah dan beras yang dibeli kemudian menjadi bagian dari cadangan pangan pemerintah.
Dalam pelaksanaannya, Bulog mengacu pada harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Skema tersebut juga diarahkan untuk memberikan kepastian pasar bagi petani.
Penyerapan November Turun, Pembelian Tetap Berlanjut
Memasuki November, kemampuan penyerapan Bulog mengalami penurunan dibandingkan masa panen raya. Kondisi tersebut sejalan dengan berkurangnya produksi gabah petani akibat perubahan musim.
Rizal menyebut penyerapan saat ini berada di kisaran 4.000 ton setara beras per hari atau sekitar 8.000 ton apabila dihitung dalam bentuk gabah.
Jumlah itu lebih rendah dibandingkan periode awal tahun yang pernah mencapai 20.000 ton, bahkan hingga 60.000 ton setara beras per hari.
Meski volume harian menurun, Bulog memastikan kegiatan pembelian tidak dihentikan. Pemerintah tetap meminta perusahaan menyerap hasil panen petani sampai akhir Desember 2026.
“Walaupun target empat juta ton sudah terpenuhi, Bulog diperintahkan untuk tetap menyerap hasil gabah petani sampai Desember,” ujar Rizal.
Penyerapan kemudian dilanjutkan pada Januari 2027. Rizal menegaskan kegiatan tersebut akan berlangsung berkesinambungan selama masih ada hasil panen yang dapat dibeli.
“Nanti di Januari lanjut lagi, non-stop pokoknya. Tiada hari tanpa penyerapan,” katanya.
Stok Cadangan Beras Pemerintah Capai 4,5 Juta Ton
Selain mencatat rekor penyerapan, Bulog juga mengelola cadangan beras pemerintah (CBP) sekitar 4,5 juta ton per 8 November 2026.
Stok tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan ketika terjadi gangguan produksi maupun pasokan akibat perubahan iklim dan situasi geopolitik global.
Dengan penyerapan yang tetap berjalan meskipun target telah terlampaui, Bulog berupaya menjaga dua kepentingan sekaligus, yakni memberikan kepastian penjualan hasil panen bagi petani dan memastikan cadangan beras pemerintah tetap kuat.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Endarto)






