JurnalLugas.Com – Ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat setelah Korea Utara meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke arah perairan timur negara tersebut.
Aksi militer ini terjadi ketika hubungan Pyongyang dan Seoul masih diwarnai perselisihan perbatasan serta ancaman pengerahan persenjataan baru.
Peluncuran tersebut terdeteksi militer Korea Selatan pada Kamis. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyebut rudal-rudal itu ditembakkan dari wilayah pesisir timur Korea Utara, tepatnya di sekitar Kota Wonsan, dengan jarak terbang masing-masing sekitar 250 kilometer.
Dikutip dari Associated Press (AP), Jumat (30/10/2026), militer Korea Selatan menyatakan tetap meningkatkan kesiapan pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan provokasi lanjutan dari Pyongyang.
Seoul juga memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat menyusul aktivitas peluncuran tersebut. Kementerian Pertahanan Jepang turut melaporkan adanya dugaan peluncuran rudal balistik oleh Korea Utara.
Perselisihan Perbatasan Memicu Ketegangan Baru
Peluncuran rudal terbaru itu berlangsung di tengah memburuknya hubungan kedua negara setelah ledakan ranjau darat di kawasan perbatasan bulan lalu menyebabkan tiga tentara Korea Selatan terluka.
Pemerintah Seoul menuding Korea Utara memasang ranjau di wilayah selatan Garis Demarkasi Militer. Korea Selatan meminta Pyongyang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Namun, Korea Utara membantah tuduhan itu dan memperingatkan akan mengambil tindakan balasan apabila merasa mendapat provokasi.
Situasi semakin rumit setelah Pyongyang pekan lalu mengancam mengaktifkan kembali siaran propaganda menggunakan pengeras suara di sepanjang perbatasan. Korea Utara juga menyatakan akan menyiagakan sistem persenjataan baru sebagai respons terhadap aktivitas militer Korea Selatan yang dianggap mengganggu wilayahnya.
Sebaliknya, Seoul menawarkan pembicaraan untuk memperjelas batas perbatasan kedua negara. Langkah tersebut dimaksudkan untuk mencegah kesalahpahaman yang berpotensi memicu bentrokan bersenjata.
Hingga kini, Korea Utara belum merespons tawaran dialog tersebut.
Aktivitas militer di kawasan perbatasan juga menunjukkan peningkatan. Dalam kunjungannya ke salah satu kota perbatasan Korea Selatan awal pekan ini, jurnalis AP melihat sejumlah meriam artileri Korea Utara yang sebelumnya tidak tampak dari wilayah tersebut.
Pyongyang dalam beberapa tahun terakhir juga memperkuat pertahanan perbatasan dengan memasang ranjau darat, pagar kawat berduri, serta berbagai struktur militer lainnya.
Seoul mengklaim pasukan Korea Utara beberapa kali melintasi batas wilayah saat melakukan pekerjaan pertahanan tersebut. Militer Korea Selatan merespons dengan tembakan peringatan, tetapi Pyongyang membantah telah melanggar perbatasan.
Kim Jong Un Perkuat Hubungan dengan China
Di tengah meningkatnya aktivitas militer, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga melakukan kunjungan ke China pada akhir pekan.
Kim mendatangi Kota Dandong melalui jembatan yang baru diresmikan untuk memberikan penghormatan kepada para prajurit China yang membantu Korea Utara dalam Perang Korea 1950-1953.
Dalam kunjungan tersebut, Kim menegaskan keinginannya mempertahankan hubungan dekat dengan Beijing. Ia menyebut persahabatan kedua negara sebagai hubungan yang tidak terkalahkan.
Kim juga bertemu dengan pejabat tinggi China dan kembali menyampaikan komitmen untuk memperluas kerja sama bilateral.
China memiliki posisi penting bagi Korea Utara, baik sebagai sekutu politik maupun sumber dukungan ekonomi. Kunjungan ini sekaligus menunjukkan upaya Pyongyang memperkuat kembali hubungan dengan Beijing setelah beberapa tahun lebih memprioritaskan kemitraan dengan Rusia.
Sebelumnya, Korea Utara diketahui mengirimkan pasukan dan amunisi untuk mendukung Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Uji Senjata Berlangsung Saat Diplomasi AS-Korea Utara Jadi Sorotan
Peningkatan uji coba persenjataan Korea Utara dalam beberapa pekan terakhir juga berlangsung ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan keinginan membuka kembali jalur diplomasi dengan Kim Jong Un.
Aktivitas militer Pyongyang diduga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi tawar dalam kemungkinan pembicaraan dengan Washington.
Sementara itu, China menyerukan agar negara-negara yang terlibat tetap mengedepankan penyelesaian politik untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing berharap semua pihak berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
Serangkaian peluncuran rudal, penguatan pertahanan perbatasan, serta belum adanya respons Korea Utara terhadap tawaran dialog Seoul memperlihatkan bahwa ketegangan kedua negara masih menjadi persoalan serius di kawasan Asia Timur.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






