IRGC Klaim Produksi Rudal Iran Dipindahkan ke Bawah Tanah, Siapkan Kejutan Militer

JurnalLugas.Com – Iran mengklaim telah memindahkan fasilitas produksi rudal dan pesawat nirawak (drone) ke lokasi bawah tanah. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan sekaligus menjaga keberlangsungan produksi senjata di tengah meningkatnya ancaman militer Amerika Serikat (AS).

Pernyataan itu disampaikan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu (7/11/2026). Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, mengatakan divisi kedirgantaraan Iran telah membangun fasilitas produksi rudal dan drone di bawah tanah.

Bacaan Lainnya

“Kami berhasil memindahkan dengan cepat produksi rudal dan drone dari (fasilitas) permukaan ke (fasilitas) bawah tanah,” ujar Mohebbi dalam konferensi pers di Teheran.

Selain memindahkan fasilitas produksi, Iran juga mengaku terus mengembangkan kemampuan rudalnya, terutama dari sisi jangkauan.

“Kami terus meningkatkan jangkauan rudal kami,” kata Mohebbi.

Dia bahkan menyatakan aset negara yang dianggap sebagai musuh Iran berada dalam jangkauan militernya. Mohebbi juga memperingatkan bahwa Teheran telah menyiapkan respons jika kembali menjadi sasaran serangan.

Menurut dia, Iran akan memberikan kejutan militer apabila pihak lawan kembali melancarkan tindakan agresif.

“Kami siap mempertahankan eksistensi, identitas, dan integritas wilayah negara kami tanpa batasan geografis apa pun,” ujarnya.

Pernyataan Iran Muncul Saat AS Tingkatkan Tekanan Militer

Pernyataan IRGC tersebut muncul ketika ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Situasi diperkeruh oleh laporan serangan militer AS yang menyasar Pulau Qeshm di wilayah selatan Iran.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, sebelumnya melaporkan dua rudal menghantam Pulau Qeshm pada Sabtu dini hari. Namun, laporan tersebut tidak merinci dampak maupun kerusakan akibat serangan itu.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat (6/11/2026) juga mengakui bahwa pasukan negaranya melancarkan serangan baru terhadap sistem pertahanan udara Iran. Trump menyebut operasi tersebut sebagai serangan berskala kecil.

Insiden di Qeshm bukan kali pertama pulau tersebut dilaporkan menjadi sasaran militer AS dalam pekan yang sama.

The Wall Street Journal, dengan mengutip sejumlah pejabat AS, melaporkan bahwa militer Amerika telah menyerang pulau tersebut pada Senin (2/11/2026).

Di tengah perkembangan itu, klaim Iran mengenai fasilitas produksi senjata bawah tanah dan peningkatan jangkauan rudal menunjukkan bahwa Teheran berupaya menegaskan kesiapan militernya menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.

Meski demikian, pernyataan IRGC mengenai kemampuan persenjataan dan ancaman serangan balasan tersebut merupakan klaim dari pihak Iran yang belum disertai rincian teknis mengenai kapasitas fasilitas maupun jangkauan rudal yang dimaksud.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Jepang Siapkan Pasukan ke Selat Hormuz, Tapi Ada 3 Syarat Penting Harus Dipenuhi

Pos terkait