Harga Murah dan Pembayaran Ditunda Petani Ghana Selundupkan Kakao ke Negara Togo

JurnalLugas.Com – Para petani kakao di Ghana kini menghadapi tantangan berat dengan harga yang rendah dan pembayaran yang tertunda. Kondisi ini mendorong banyak dari mereka untuk menyelundupkan hasil panennya ke negara tetangga, Togo. Fenomena ini mengancam stabilitas produksi kakao di negara tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh petani dan pejabat setempat.

Ghana, produsen kakao terbesar kedua di dunia, mengalami masalah serius. Sejak Januari, tidak ada kakao dari wilayah Volta dan Oti yang dibeli oleh pembeli berlisensi resmi, menurut pejabat Cocobod. Semua hasil panen dari daerah-daerah ini telah dijual secara ilegal, dan wilayah ini juga menjadi jalur utama penyelundupan kakao dari daerah lain di Ghana.

Bacaan Lainnya

Frank Amoah-Frimpong, pejabat tinggi Cocobod di wilayah perbatasan Volta timur dan Oti, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menyatakan bahwa situasi ini sangat mengkhawatirkan karena pihaknya tidak dapat menilai kakao sejak Januari.

Baca Juga  Harga Kakao Global Naik, Sinyal Krisis Pasokan? Ini Dampaknya bagi Ekspor Indonesia

Harga kakao global telah melonjak akibat cuaca buruk, penyakit, dan penambangan ilegal yang mempengaruhi panen di Ghana dan Pantai Gading. Meskipun harga global naik, harga tetap yang ditetapkan pemerintah Ghana tidak cukup mengimbangi biaya produksi, sehingga penyelundup dapat menawarkan harga lebih tinggi, bahkan dua kali lipat dari harga resmi.

Pada bulan April, Cocobod meningkatkan harga beli dari petani hampir 60% untuk mencegah penyelundupan. Namun, pembeli lokal masih kesulitan bersaing dengan harga yang lebih tinggi dari para penyelundup.

Seorang pembeli berlisensi di Ghana timur melaporkan penurunan drastis dalam pembelian kakao, dari 28.000 kantong pada musim 2020/21 menjadi hanya 870 kantong musim ini.

Penyelundupan telah meningkat selama tiga musim terakhir, menyebabkan beberapa perusahaan pembeli berlisensi tutup karena kurangnya pembiayaan dari Cocobod.

Joshua Dogboe, seorang petani dari daerah Likpe, mengakui bahwa ia menjual kakao kepada penyelundup karena kebutuhan finansial dan pembayaran yang tertunda. Cocobod kehilangan sekitar 150.000 ton kakao pada musim lalu akibat penyelundupan dan kerusakan perkebunan oleh penambang emas ilegal.

Baca Juga  Harga Kakao Berjangka Melemah Akibat Penguatan Dolar AS

Meski tingkat kerugian musim ini tidak disebutkan, pejabat dan polisi mengakui bahwa operasi penyelundupan semakin terorganisir dan berani, dengan keterlibatan warga negara asing dari Lebanon, Cina, Prancis, dan Rusia yang berbasis di Togo.

Penyelundupan kini semakin canggih. Dari yang awalnya hanya menggunakan sepeda motor untuk mengangkut karung-karung kakao, kini mereka menggunakan truk pengangkut yang disamarkan dengan serpihan batu untuk memindahkan kakao dalam jumlah besar.

Hal ini mengindikasikan adanya kartel terorganisir, seperti yang dijelaskan oleh Abu Seidu, kepala Divisi Kesehatan dan Penyuluhan Kakao Cocobod di wilayah Volta dan Oti. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kegiatan penyelundupan di wilayah tersebut semakin kompleks dan sulit dikendalikan.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait