JurnalLugas.Com – Beberapa perusahaan besar Jepang kini meningkatkan perlindungan terhadap karyawan mereka di China setelah terjadinya penikaman fatal terhadap seorang anak laki-laki Jepang di Shenzhen. Peristiwa tragis ini telah memicu respons yang signifikan dari korporasi Jepang di seluruh China, yang berupaya untuk memastikan keamanan staf mereka.
Toyota Motor Corp, sebagai salah satu produsen mobil terbesar, telah menginstruksikan stafnya di China untuk tetap waspada sesuai dengan pedoman dari kedutaan besar Jepang. Perusahaan ini berfokus pada peningkatan komunikasi dan penerapan langkah-langkah keselamatan untuk melindungi karyawan mereka.
Mitsubishi Heavy Industries Ltd juga telah mengambil tindakan serupa dengan meningkatkan kesadaran di kalangan pekerjanya mengenai insiden tersebut dan menganjurkan mereka untuk berhati-hati. Masanori Katayama, ketua Asosiasi Produsen Mobil Jepang, menyatakan bahwa langkah-langkah pencegahan telah diimplementasikan, termasuk penyebaran informasi secara luas di antara karyawan dan perusahaan-perusahaan lain.
Perusahaan-perusahaan besar Jepang lainnya, termasuk Sony Group Corp, Toshiba Corp, Kao Corp, dan Murata Manufacturing Co, juga menunjukkan kepedulian yang sama. Mereka semua telah melakukan tindakan untuk memastikan keselamatan dan keamanan karyawan mereka di China.
Kementerian Luar Negeri Jepang mengonfirmasi bahwa anak berusia 10 tahun yang menjadi korban penikaman pada Rabu, 18 September 2024, meninggal dunia dalam perjalanan menuju sekolah. Insiden ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian serangan terhadap orang asing di China, dan menjadi yang kedua yang melibatkan warga negara Jepang dalam beberapa bulan terakhir.
Kejadian ini berpotensi memperburuk hubungan antara Jepang dan China, mengingat hubungan kedua negara yang sudah tegang akibat berbagai isu, termasuk perselisihan sejarah dan sengketa teritorial. Saat ini, terdapat sekitar 13.000 perusahaan Jepang yang beroperasi di China dan sekitar 100.000 warga negara Jepang yang tinggal di sana, menurut data dari Teikoku Databank dan Kementerian Luar Negeri Jepang.






