JurnalLugas.Com — Platform berbagi video YouTube kembali menghadirkan inovasi baru untuk melindungi kreator dari penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dalam beberapa pekan ke depan, YouTube dikabarkan mulai membuka akses lebih luas terhadap fitur pendeteksi kemiripan wajah yang mampu melacak penggunaan wajah kreator dalam video AI maupun konten deepfake.
Langkah ini menjadi respons atas meningkatnya kekhawatiran publik terhadap maraknya video manipulasi digital yang semakin sulit dibedakan dengan video asli. Teknologi deepfake yang berkembang pesat dinilai berpotensi menimbulkan penyebaran informasi palsu, penipuan digital, hingga pencemaran nama baik.
Melalui halaman komunitas resminya, YouTube menjelaskan fitur tersebut dirancang agar kreator dapat mengetahui apakah wajah mereka digunakan tanpa izin dalam video berbasis AI yang beredar di platform.
Selain mendeteksi kemiripan wajah, sistem itu juga memberikan jalur cepat bagi pengguna untuk mengajukan penghapusan konten yang dianggap melanggar hak personal atau digunakan secara tidak sah.
Juru bicara YouTube, Jack Malon mengatakan perlindungan ini nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi kreator besar yang telah lama aktif di platform, tetapi juga pengguna baru yang baru memulai karier sebagai kreator konten.
“Semua kreator akan memperoleh tingkat perlindungan yang sama terhadap penyalahgunaan identitas digital,” ujar Jack dalam keterangannya.
Fitur pendeteksi ini sebenarnya telah diuji sejak 2024 sebelum akhirnya mulai diperkenalkan secara terbatas pada akhir 2025 kepada anggota Program Mitra YouTube atau kreator yang telah memenuhi syarat monetisasi.
Pada tahap awal, akses hanya diberikan kepada kanal dengan jumlah pelanggan tertentu dan jam tayang yang memenuhi ketentuan platform. Setelah itu, YouTube memperluas penggunaan alat tersebut kepada jurnalis dan tokoh politik yang dinilai rentan menjadi sasaran manipulasi AI.
Kini, fitur itu mulai diperluas untuk seluruh kreator berusia 18 tahun ke atas, termasuk pengguna baru yang belum memiliki banyak pengikut.
Untuk menggunakan layanan tersebut, kreator diwajibkan melakukan proses verifikasi identitas melalui YouTube Studio versi desktop. Pengguna nantinya diminta membuka menu “Likeness” di bagian “Content Detection”, kemudian melakukan pemindaian QR Code, mengunggah identitas resmi pemerintah, serta menyelesaikan verifikasi swafoto video.
Setelah proses selesai, sistem YouTube akan secara otomatis memindai video yang diunggah ke platform guna mencari kemungkinan kecocokan wajah pengguna dengan konten AI yang tersebar.
Apabila ditemukan indikasi penyalahgunaan, kreator dapat langsung meninjau video terkait dan mengirimkan permintaan penghapusan kepada pihak YouTube. Pengguna juga dapat memberikan penjelasan mengenai bentuk penggunaan wajah mereka dalam video tersebut.
Menariknya, YouTube juga mulai mempertimbangkan unsur suara dalam evaluasi konten deepfake. Namun hingga saat ini, teknologi yang tersedia masih belum dapat melakukan pendeteksian berbasis suara secara mandiri tanpa dukungan identifikasi visual wajah.
Pengamat teknologi digital menilai langkah YouTube ini menjadi sinyal penting bahwa platform media sosial mulai serius menghadapi ancaman penyalahgunaan AI generatif. Perlindungan identitas digital dinilai akan menjadi isu utama di era perkembangan teknologi konten otomatis yang semakin canggih.
Kehadiran fitur ini juga diperkirakan dapat membantu masyarakat umum yang wajahnya digunakan tanpa izin dalam video promosi palsu, penipuan investasi, maupun manipulasi politik yang beredar di internet.
Dengan semakin luasnya akses terhadap teknologi AI, sistem perlindungan seperti ini dipandang menjadi kebutuhan penting untuk menjaga keamanan identitas digital pengguna di masa depan.
Baca berita teknologi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Tirta)






