JurnalLugas.Com – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan hari Selasa, 18 Februari 2025. Berdasarkan data yang dihimpun dari pasar spot, mata uang Garuda tercatat melemah sebesar 9 poin atau setara dengan 0,05 persen, sehingga berada di posisi Rp16.237 per dolar Amerika Serikat (USD). Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.228 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah dinamika ekonomi global yang terus berfluktuasi. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang didorong oleh sentimen positif terhadap perekonomian Amerika Serikat, serta adanya spekulasi terkait kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang cenderung tetap ketat.
Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati seiring dengan rilis data ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya memberikan optimisme. Kekhawatiran terhadap defisit neraca perdagangan serta perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional menjadi faktor yang memperberat langkah rupiah di pasar valuta asing.
Namun demikian, Bank Indonesia (BI) terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah. Intervensi di pasar valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen yang kerap digunakan guna meredam tekanan terhadap mata uang domestik.
Analis memperkirakan, pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, terutama kebijakan moneter The Fed, serta sentimen domestik terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Pelaku pasar diimbau untuk terus mencermati berbagai faktor fundamental agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam bertransaksi di pasar keuangan.
Untuk mendapatkan informasi terkini seputar perkembangan ekonomi dan bisnis, kunjungi JurnalLugas.Com.






