Logo Kantor Neta Auto Shanghai Dihapus Ini Penjelasan Lengkap dan Kondisi Terbarunya

JurnalLugas.Com — PT Neta Auto Indonesia akhirnya angkat bicara terkait sorotan publik atas hilangnya logo besar yang sebelumnya terpasang di kantor pusat Neta Auto di Shanghai. Kejadian tersebut sempat memicu spekulasi luas mengenai kondisi internal perusahaan otomotif asal Tiongkok tersebut.

Brand PR & Digital Senior Manager PT Neta Auto Indonesia, Frietz Frederick, memberikan penjelasan bahwa penghapusan logo itu bukan karena masalah krisis, melainkan akibat dari relokasi kantor pusat Neta ke lokasi baru.

Bacaan Lainnya

“Sehubungan dengan dilepasnya logo NETA di kantor pusat kami di Shanghai, kami ingin menyampaikan bahwa hal ini disebabkan oleh perubahan alamat kantor pusat NETA yang kini berlokasi di Hongqiao Transport Hub, yang terletak di dekat Bandara Internasional Shanghai,” ungkap Frietz Frederick, Sabtu (31/5/2025).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk menunjang efisiensi operasional serta memudahkan mobilitas dalam menjalankan kegiatan bisnis, baik di dalam negeri maupun secara global.

“Dengan lokasi baru yang lebih strategis, kami optimistis akan lebih mudah menjalin kolaborasi lintas wilayah dan mendorong pertumbuhan bisnis secara lebih maksimal,” imbuhnya.

Sorotan Tajam terhadap Neta: Krisis Internal Makin Terkuak

Meski klarifikasi resmi telah disampaikan, isu yang beredar terkait kondisi internal Neta Auto masih menjadi perhatian publik dan pelaku industri otomotif. Diketahui, kantor pusat sebelumnya yang kehilangan logo besar itu kini menyisakan bayangan bekas logo di fasad gedung—menyulut spekulasi bahwa perusahaan sedang menghadapi tekanan serius.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa Neta, yang berada di bawah naungan Hozon New Energy Automobile, kini tengah memasuki fase krusial dalam sejarah bisnisnya. Pemegang saham milik negara dilaporkan tengah mengupayakan perubahan besar dalam struktur manajemen, termasuk kemungkinan pencopotan pendiri perusahaan, Fang Yunzhou, dari jabatannya sebagai ketua dan CEO.

Langkah itu dikabarkan merupakan respons atas kondisi finansial perusahaan yang memburuk: kerugian besar, gangguan rantai pasok, hingga penutupan pabrik menjadi gejala krisis yang tak bisa diabaikan.

Utang Membengkak, Produksi Mandek

Informasi dari sumber internal menyebutkan bahwa Neta saat ini memiliki utang lebih dari 6 miliar yuan (setara 833 juta dolar AS) kepada para pemasok. Bahkan, perusahaan raksasa baterai seperti CATL dikabarkan telah menghentikan pengiriman komponen karena pembayaran yang macet.

Dampaknya, aktivitas produksi dalam negeri nyaris terhenti total. Kondisi ini turut menunda pemenuhan pesanan dari luar negeri, meskipun sebelumnya Neta sempat mendapatkan fasilitas kredit sebesar 2,15 miliar yuan (sekitar 300 juta dolar AS) dari Thailand.

Penurunan Penjualan Drastis dan PHK Massal

Penurunan performa penjualan turut mencerminkan kondisi kesehatan bisnis perusahaan. Setelah mencatatkan angka pengiriman sebesar 152.000 unit pada 2022, volume itu menyusut menjadi 127.500 unit di tahun 2023, dan anjlok tajam hingga tinggal 64.549 unit sepanjang 2024.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), penutupan toko, serta unjuk rasa dari pihak pemasok hanya memperparah reputasi perusahaan. Upaya penghematan ekstrem seperti pemangkasan insentif ekuitas karyawan dan penyusutan lini usaha pun belum cukup untuk membalikkan keadaan.

Kini, publik dan para pemangku kepentingan menanti langkah strategis berikutnya dari Hozon untuk menyelamatkan Neta Auto dari potensi kejatuhan yang lebih dalam.

Untuk perkembangan berita otomotif dan ekonomi lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Nissan Luncurkan Panel Surya AO-Solar Extender di Sakura EV, Bisa Tambah Jarak Tempuh 3.000 Km

Pos terkait