Trump Sebut Elon Musk “Orang Malang” Hubungan Keduanya Retak Total

JurnalLugas.Com – Hubungan antara mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, kini memasuki babak baru yang lebih panas. Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump bahkan enggan lagi berbicara dengan Musk, menandai retaknya komunikasi dua tokoh berpengaruh ini.

Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa keduanya akan duduk bersama untuk menyelesaikan ketegangan. Namun, hingga kini belum ada percakapan telepon yang terjadi, menurut keterangan dari sumber internal Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya.

Bacaan Lainnya

Dalam sebuah wawancara terbaru yang dilakukan pada 6 Juni 2025, Trump menyatakan bahwa dirinya telah mengalihkan fokus dari Musk. “Saya bahkan tidak memikirkan Elon. Ia sedang bermasalah, orang malang itu,” ujar Trump dengan nada tajam.

Sumber yang sama juga mengungkap bahwa Trump mempertimbangkan untuk menyingkirkan mobil Tesla Model S merah yang baru dibelinya pada bulan Maret lalu, sebagai bentuk kekecewaannya terhadap Musk.

Kontrak Pemerintah Jadi Taruhan

Pernyataan keras dari Gedung Putih tersebut muncul setelah pertikaian terbuka antara Trump dan Musk meletus ke publik. Dalam konflik yang luar biasa ini, Trump memberi sinyal akan memutus kontrak pemerintah dengan perusahaan-perusahaan milik Musk, termasuk SpaceX dan penyedia layanan internet satelit, Starlink.

Meski demikian, saham Tesla justru mencatat kenaikan pada Jumat (6/6), setelah sebelumnya merosot hingga 14% dan menghapus kapitalisasi pasar sebesar 150 miliar dolar AS—penurunan harian terbesar dalam sejarah perusahaan.

Baca Juga  Jepang Desak AS Buka Diskusi Tarif Ini Strategi Baru Tokyo Hadapi Trump

Sorotan Teman Dekat dan Dampak Kampanye

Sementara para sahabat Musk kebanyakan memilih bungkam, investor James Fishback justru buka suara. Ia mendesak Musk untuk meminta maaf kepada Trump. “Presiden Trump menunjukkan kesabaran luar biasa, sementara Elon justru bertindak mengecewakan,” ucap Fishback.

Musk diketahui sebagai salah satu penyandang dana utama dalam kampanye Trump di Pilpres 2024. Dukungan tersebut membuatnya dipercaya untuk memimpin Lembaga Efisiensi Pemerintah (DOGE), yang bertugas memangkas anggaran negara.

Namun kini, popularitas Musk di publik kian menurun. Gerakan boikot terhadap produk Tesla merebak, bahkan sejumlah pengguna platform media sosial X memilih migrasi ke aplikasi pesaing.

Akar Konflik: RUU Pemangkasan Anggaran

Benih perpecahan mencuat ketika Musk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala DOGE dan secara terbuka mengecam RUU pemangkasan anggaran yang digagas Trump. Ia menyebut RUU itu sebagai “kekejian menjijikkan” yang berpotensi menambah utang nasional hingga 36,2 triliun dolar AS.

Sikap Musk itu dinilai menghambat proses pengesahan RUU di Kongres, meski Partai Republik memiliki mayoritas kursi.

Ironisnya, seminggu sebelumnya, Trump sempat memuji Musk di Gedung Putih karena upaya efisiensi anggaran, meskipun hasilnya dinilai jauh dari target penghematan sebesar 2 triliun dolar.

Perang Kata di Media Sosial

Hubungan yang awalnya mesra kini berubah jadi ajang sindiran di media sosial. Lewat platform X, Musk menyindir bahwa tanpa bantuannya, Trump tidak akan menang dalam pemilu. Ia juga menilai kebijakan tarif impor Trump dapat mendorong AS ke jurang resesi.

Baca Juga  UU Dokumen Epstein Resmi Berlaku, Ada Nama Bill Clinton & Elit Demokrat

Tak mau kalah, Trump membalas sindiran tersebut melalui Truth Social, platform yang ia miliki, dan menegaskan kekecewaannya terhadap Musk.

Ketegangan makin panas ketika Trump menyampaikan rencana untuk membatalkan kontrak pemerintah dengan perusahaan milik Musk. SpaceX yang selama ini jadi tulang punggung peluncuran misi luar angkasa AS pun terancam. Musk bahkan sempat mengancam akan menghentikan operasional wahana antariksa Dragon, namun ia kemudian menarik ancaman tersebut.

Dampak Politik Jangka Panjang

Konflik ini berpotensi memecah Partai Republik, terutama menjelang pemilu paruh waktu tahun depan. Jika Musk menghentikan dukungan finansialnya atau tokoh-tokoh bisnis Silicon Valley menarik diri, upaya mempertahankan mayoritas di Kongres bisa terganggu.

Dalam pernyataan publik terbarunya, Musk menyebut akan mengurangi belanja politik dan menyerukan agar semua politisi yang “mengkhianati rakyat” harus disingkirkan dalam pemilu mendatang.

Situasi ini menjadi cerminan rumitnya dinamika politik dan ekonomi di Amerika Serikat, ketika dua sosok dengan kekuatan besar justru saling bertarung di ruang publik dan pasar.

📌 Kunjungi berita-berita aktual dan tajam lainnya hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait