Iran Bangun Nuklir Lagi? Trump Ancam Serangan Susulan AS Tak Terelakkan

JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa Washington siap kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran jika negara itu mencoba membangun kembali fasilitas nuklirnya yang baru saja dihancurkan. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi NATO yang digelar di Den Haag, Belanda.

Menurut Trump, serangan besar-besaran yang diluncurkan AS pada akhir pekan lalu telah meruntuhkan total fasilitas nuklir bawah tanah Iran. “Sangat sulit untuk membangunnya kembali karena semuanya telah runtuh. Tidak seorang pun dapat masuk untuk melihatnya karena sudah hancur,” ujar Trump kepada para wartawan, Rabu (25/6/2025).

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Ketegangan Meningkat Senat AS Beri Lampu Hijau Trump Serang Iran

Ia menambahkan bahwa operasi militer tersebut telah memundurkan program nuklir Teheran hingga puluhan tahun. “Saya rasa Iran tidak akan pernah membangunnya kembali,” tegasnya.

Ketika ditanya oleh wartawan mengenai sikap AS bila Iran kembali mengembangkan senjata nuklir, Trump menjawab tegas, “Tentu (AS akan menyerang Iran lagi). Dan (Anda) tidak perlu mengkhawatirkannya.”

Sebelumnya, pada Senin (23/6/2025), Iran melancarkan serangan rudal balasan ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar. Serangan ini dilakukan sebagai respons atas pengeboman bunker nuklir Iran oleh bom seberat 13,6 ton yang diluncurkan AS, yang turut menjadi bentuk dukungan militer terhadap Israel dalam konflik yang telah berlangsung selama 12 hari melawan Iran.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Georgetown, Michael D. Allen, menilai situasi ini bisa memicu eskalasi yang lebih luas. “Ketegangan antara AS dan Iran bisa semakin panas, terlebih jika tidak ada upaya diplomasi nyata dari kedua pihak,” ujarnya singkat.

Baca Juga  IRGC Hantam Kapal AS & Israel Sekaligus, USS Tripoli Dipaksa Mundur

Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik antara AS, Iran, dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan setiap langkah militer bisa memperpanjang krisis di kawasan Timur Tengah.

Selengkapnya kunjungi: JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait