Miliarder Israel Masuk Indonesia? Ini Daftar Nama dan Bisnisnya

JurnalLugas.Com — Di tengah absennya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel, geliat bisnis ternyata tak mengenal batas geopolitik. Sejumlah miliarder asal Israel diketahui memiliki jejak bisnis di Tanah Air, meski mayoritas dilakukan secara tidak langsung melalui perusahaan multinasional atau lewat pusat bisnis regional seperti Singapura dan Hong Kong.

Berikut deretan konglomerat Israel yang diduga memiliki kepentingan bisnis di Indonesia, beserta sektor dan mekanismenya:

Bacaan Lainnya

1. Teddy Sagi – Raja Teknologi Digital Global

Miliarder teknologi asal Israel, Teddy Sagi, dikenal sebagai pendiri Playtech, perusahaan raksasa penyedia perangkat lunak perjudian online. Meski perjudian ilegal di Indonesia, teknologi yang dikembangkan oleh jaringan perusahaannya banyak digunakan secara global, termasuk di Asia Tenggara.

Tak hanya itu, Sagi juga menguasai berbagai startup berbasis cloud, data center, hingga cybersecurity. Sejumlah analis menyebut, layanan hosting atau enkripsi yang digunakan oleh startup fintech dan e-commerce Indonesia kemungkinan besar berasal dari penyedia global yang masih terafiliasi dengan portofolio bisnis milik Sagi.

“Bisnis digital kini tidak mengenal batas. Vendor asal Israel bisa menyuplai layanan ke Indonesia lewat jalur tidak langsung,” ujar analis teknologi yang enggan disebut namanya.

2. Idan Ofer – Mengintai Lewat Energi dan Transportasi

Putra dari taipan shipping, Idan Ofer, merupakan pemilik Kenon Holdings dan memiliki saham besar di sektor logistik serta energi. Lewat perusahaan Israel Corporation dan anak usahanya, Ofer memiliki kepentingan global dalam pengiriman energi, kendaraan listrik, hingga pelabuhan.

Meskipun tak tercatat secara legal di Indonesia, jejak Kenon bisa terlacak lewat investasi di perusahaan-perusahaan mitra di Asia yang memiliki hubungan dagang dengan BUMN pelayaran atau energi di Indonesia.

3. Eyal Ofer – Jalur Kapal dan Properti Global

Eyal Ofer, saudara dari Idan, memimpin Zodiac Maritime, salah satu perusahaan pelayaran terbesar dunia. Jalur bisnisnya sangat dekat dengan rantai distribusi minyak, gas, dan kargo yang melewati Indonesia.

Menurut catatan pelayaran internasional, kapal-kapal milik Zodiac kerap bersandar di pelabuhan besar seperti Belawan, Tanjung Priok, hingga Balikpapan.

“Kehadiran kapal bukan hanya soal logistik, tapi bisa mengarah ke potensi kerja sama industri maritim yang lebih luas,” kata pengamat ekonomi maritim, Y. Simanjuntak.

4. Yitzhak Tshuva – Pemain Energi Lewat Delek Group

Pemilik Delek Group, Yitzhak Tshuva, dikenal sebagai pemain utama di sektor energi dan eksplorasi migas. Melalui perusahaan global mitra seperti Chevron atau Total, Delek pernah disebut-sebut berkontribusi dalam rantai suplai energi Asia Tenggara.

Beberapa analis menyebut, teknologi dan jasa eksplorasi yang dikembangkan Delek secara tak langsung bisa terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia, terutama dalam eksplorasi laut dalam.

5. Shari Arison – Menyasar Proyek Infrastruktur Lewat Shikun & Binui

Satu-satunya perempuan dalam daftar ini, Shari Arison, mengendalikan konglomerasi infrastruktur dan keuangan Arison Group, termasuk perusahaan konstruksi global Shikun & Binui.

Beberapa tender infrastruktur di kawasan ASEAN pernah menyebut nama perusahaan ini sebagai subkontraktor dalam proyek multilateral. Meskipun belum terverifikasi secara spesifik di Indonesia, kehadirannya di negara tetangga menandakan adanya potensi bisnis ke Indonesia, terutama melalui proyek-proyek pembangunan berlabel internasional seperti ADB atau World Bank.

Jalur Tak Langsung Jadi Kunci

Indonesia memang tidak memiliki hubungan dagang resmi dengan Israel. Namun, miliarder-miliarder asal Tel Aviv tetap bisa berbisnis di sini melalui berbagai celah:

  • Kantor regional di Singapura dan Hong Kong
  • Akuisisi saham di startup global yang masuk ke Indonesia
  • Penyediaan teknologi melalui pihak ketiga
  • Investasi dalam dana ventura global yang merambah Asia

Mengapa Perlu Diwaspadai?

Keterlibatan pihak asing dalam sektor strategis tanpa pengawasan bisa berdampak pada kedaulatan data, kontrol ekonomi, bahkan keamanan nasional. Apalagi jika pelakunya berasal dari negara tanpa hubungan diplomatik seperti Israel.

Transparansi kepemilikan modal dan keterbukaan sumber layanan teknologi menjadi sangat penting di era digital dan pasar bebas seperti sekarang.

📌 Ikuti terus laporan mendalam lainnya hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Terungkap! Daftar Perusahaan Israel Masuk Indonesia dan Ini Profil Pendirinya

Pos terkait