JurnalLugas.Com – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kekhawatirannya terhadap potensi dampak besar dari serangan Amerika Serikat ke tiga situs nuklir Iran, termasuk kemungkinan Iran menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Dalam konferensi pers setelah Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa di Brussels, Macron menyebut bahwa serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran “efektif” dalam melemahkan kemampuan nuklir Teheran. Namun, ia menilai konsekuensinya bisa jauh lebih buruk.
“Skenario terburuk adalah jika Iran keluar dari NPT akibat serangan tersebut. Itu akan menjadi kemunduran kolektif dalam upaya menjaga stabilitas global,” kata Macron, dikutip media internasional, Kamis (26/6).
Macron menyampaikan bahwa dirinya akan segera berdialog dengan Dewan Keamanan PBB untuk mencegah skenario tersebut terjadi. Komunikasi itu telah diawali dengan panggilan telepon ke Presiden AS Donald Trump guna menyampaikan hasil pembicaraan Macron sebelumnya dengan pihak Iran.
“Kami berharap akan tercapai konvergensi pandangan dalam menjaga komitmen global terhadap NPT,” imbuh Macron.
Iran sendiri telah menjadi bagian dari NPT sejak 1970 dan selama ini mengklaim bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam pengawasan program nuklirnya. Namun, situasi berubah pasca serangan AS ke fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni lalu.
Parlemen Iran pada Senin (23/6) menyetujui rancangan undang-undang yang mendorong penghentian kerja sama penuh dengan IAEA, yang dituduh Iran turut terlibat dalam pembenaran serangan Israel terhadap Teheran. Iran menilai pernyataan IAEA soal situs nuklirnya dijadikan dasar legitimasi oleh Israel.
Serangan Amerika, yang diklaim dilakukan atas permintaan Israel, menargetkan tiga lokasi utama: Natanz, Fordow, dan Isfahan. Pemerintah AS mengklaim bahwa serangan tersebut telah melenyapkan kemampuan nuklir Iran secara signifikan.
Namun, laporan dari media Amerika menyebut bahwa penilaian awal intelijen AS menunjukkan serangan itu hanya akan memperlambat program nuklir Iran selama beberapa bulan, bukan menghentikannya sepenuhnya. Klaim ini telah dibantah oleh Presiden Donald Trump dan pihak Gedung Putih.
Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran akan babak baru instabilitas di kawasan Timur Tengah dan potensi keretakan lebih luas dalam tatanan non-proliferasi global.
Untuk perkembangan lebih lanjut, kunjungi JurnalLugas.Com.






