JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengakui bahwa perang yang dijalankan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mungkin akan memakan waktu lebih lama daripada perkiraan awal. Pernyataan ini muncul setelah serangan udara terhadap Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Netanyahu menegaskan bahwa meskipun konflik ini bisa memakan waktu, Israel tidak mengantisipasi perang berkepanjangan seperti beberapa konflik sebelumnya di kawasan Timur Tengah. “Mungkin butuh waktu, tapi tidak akan memakan waktu bertahun-tahun. Ini bukan perang tanpa akhir,” ujar Netanyahu dalam konferensi pers singkat.
Serangan yang Memicu Balasan Iran
Serangan udara gabungan AS-Israel memicu serangan balasan dari Iran, termasuk serangan rudal ke Israel dan negara-negara Arab yang memiliki pangkalan militer AS. Presiden Donald Trump sebelumnya memperkirakan perang ini berlangsung empat hingga lima minggu, namun kemudian mengakui bahwa durasinya bisa lebih panjang.
Langkah ini menandai pergeseran kebijakan luar negeri Trump, yang sempat menekankan retorika “America First” dan menentang intervensi militer saat kampanye Pemilihan 2024. Netanyahu menekankan bahwa perang ini juga dapat menjadi peluang bagi tercapainya perdamaian abadi di kawasan, termasuk hubungan Israel-Arab Saudi. “Ya, saya melihat jalan menuju perdamaian,” katanya.
Dukungan Publik dan Pandangan Warga Amerika
Meski demikian, jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hanya satu dari empat warga Amerika yang mendukung serangan terhadap Iran, yang kini menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam ketegangan tinggi. Pengalaman panjang Amerika dalam konflik Irak dan Afghanistan membuat banyak warga skeptis terhadap keterlibatan militer langsung Washington di luar negeri.
Tujuan Perang dan Masa Depan Iran
Netanyahu juga menekankan bahwa perang ini bisa membuka peluang bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka. “Akhirnya, terserah rakyat Iran untuk mengubah pemerintah, tetapi Amerika dan Israel menciptakan kondisi bagi mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Trump mengubah nada pernyataannya terkait tujuan perang. Awalnya ia mendorong rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka, namun komentar terbarunya menekankan bahwa operasi militer bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan program rudal balistik jarak jauh, yang dibantah Teheran.
Saat ini, Israel diyakini sebagai satu-satunya negara Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, sementara AS juga memiliki persenjataan nuklir yang signifikan.
Baca Berita lengkap dan update terkini di JurnalLugas.Com.
(SF)






