China Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Mao Ning Perlindungan Warga Sipil adalah Garis Merah

JurnalLugas.Com – Pemerintah China mengutuk keras serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas sipil di Iran yang menewaskan ratusan warga, menegaskan bahwa perlindungan warga sipil adalah batas merah yang tidak boleh dilanggar.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan, “China sangat sedih atas banyaknya korban sipil akibat serangan AS dan Israel. Perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata adalah garis merah dan tidak boleh dilanggar.”

Bacaan Lainnya

Serangan udara yang terjadi pada Sabtu (28/2) menimpa Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, menewaskan hingga 165 orang. Mao Ning menekankan bahwa penggunaan kekuatan secara membabi buta tidak dapat diterima dan menyerukan semua pihak untuk menghormati hukum internasional serta menjamin keselamatan warga sipil.

Menurut Mao, operasi militer AS-Israel itu tidak mendapat otorisasi Dewan Keamanan PBB dan melanggar hukum internasional. Ia juga menyoroti dampak regional dari serangan tersebut, menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah negara-negara Teluk. “China mendesak semua pihak menghentikan operasi militer dan mencegah konflik meluas,” ujarnya.

Baca Juga  Ditolak Iran, Trump Murka, Negosiasi Perdamaian Gagal

Serangan itu juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu balasan berupa serangan rudal Iran ke Israel dan infrastruktur militer AS di Timur Tengah. Menanggapi ketegangan, Departemen Luar Negeri AS mendesak warganya meninggalkan kawasan yang dinilai berisiko tinggi, termasuk Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, Tepi Barat, Gaza, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, UEA, dan Yaman.

Mao Ning menambahkan, “Setiap serangan terhadap warga sipil dan target non-militer harus dikutuk. China siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendorong perdamaian dan stabilitas regional.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengakui bahwa serangan AS dilakukan untuk mencegah respons Iran terhadap serangan Israel yang diperkirakan akan terjadi. Namun, laporan media menunjukkan bahwa pejabat Pentagon belum menemukan bukti bahwa Iran berencana menyerang pasukan AS terlebih dahulu.

Baca Juga  Tol Kapal di Selat Hormuz Kini Dibayar Pakai Bitcoin, Ini Rinciannya

Israel sebelumnya menyebut serangan itu sebagai aksi “preemptif” dengan nama operasi “Lion’s Roar”, sekaligus memberlakukan status darurat nasional. Serangan ini berlangsung di tengah negosiasi program nuklir Iran yang difasilitasi Oman, dengan putaran terbaru di Jenewa baru berakhir pada Kamis (26/2).

Situasi di kawasan Timur Tengah saat ini menjadi perhatian global, dengan China menekankan bahwa diplomasi dan perlindungan warga sipil harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang terlibat.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi JurnalLugas.Com.

(NL)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait