Pentagon Klaim Mojtaba Khamenei Terluka Serangan AS–Israel ke Iran, Pete Hegseth Kondisinya

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pemerintah Amerika Serikat menyebut pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami luka dalam gelombang serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa pemimpin baru Iran itu kemungkinan mengalami luka serius dalam serangan awal yang menyasar sejumlah target strategis di Iran.

Bacaan Lainnya

Dalam konferensi pers di Pentagon pada Jumat (13/3/2026), Hegseth mengatakan pihaknya menerima informasi intelijen terkait kondisi pemimpin baru Republik Islam tersebut.

“Informasi yang kami miliki menunjukkan pemimpin yang baru disebut sebagai pemimpin tertinggi itu terluka dan kemungkinan mengalami cedera serius,” ujar Hegseth dalam pernyataan singkat kepada wartawan.

Kepemimpinan Iran Disebut Sedang Tertekan

Menurut Hegseth, situasi di lingkaran kepemimpinan Iran saat ini berada dalam kondisi tertekan setelah rangkaian serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel.

Ia menyebut sejumlah tokoh penting Iran dilaporkan bersembunyi di lokasi yang dirahasiakan untuk menghindari serangan lanjutan.

Pentagon juga mengonfirmasi laporan yang menyebut Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, terluka pada hari pertama gelombang serangan udara tersebut.

Baca Juga  IRGC Tembak Jatuh Jet Siluman F-35 AS, Nasib Pilot Hilang

Serangan tersebut terjadi tidak lama setelah kematian ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran.

Setelah kematian pemimpin lama tersebut, Majelis Ahli Iran kemudian menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu.

Donald Trump Kemungkinan Masih Hidup

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei kemungkinan masih hidup meski dilaporkan mengalami luka.

“Saya rasa dia mungkin masih hidup. Terluka, tapi kemungkinan masih bertahan,” kata Trump kepada media.

Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi internasional mengenai kondisi pemimpin baru Iran setelah serangan militer yang menargetkan sejumlah fasilitas strategis negara tersebut.

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz

Di tengah situasi tersebut, Mojtaba Khamenei sebelumnya telah menyampaikan pesan pertama sejak diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran melalui siaran televisi pemerintah.

Dalam pernyataan yang dibacakan oleh pembawa berita, ia menegaskan bahwa Iran akan tetap menutup jalur energi vital dunia, Selat Hormuz.

Selain itu, Iran juga disebut akan terus melancarkan serangan terhadap sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk jika konflik terus berlanjut.

Baca Juga  Donald Trump Ancam Hentikan Bantuan Pendanaan Afrika Selatan

Pemimpin baru Iran bahkan memperingatkan kemungkinan pembukaan “front konflik baru” apabila serangan Amerika Serikat dan Israel tidak dihentikan.

Pentagon Sebut Pernyataan Iran Tanda Kelemahan

Menanggapi pernyataan tersebut, Hegseth menilai pesan yang disampaikan Mojtaba Khamenei justru mencerminkan kondisi kepemimpinan Iran yang sedang tidak stabil.

Ia menyoroti fakta bahwa pesan tersebut hanya berupa pernyataan tertulis tanpa disertai rekaman suara atau video.

“Tidak ada suara, tidak ada video, hanya pernyataan tertulis,” ujar Hegseth.

Ia juga menilai situasi politik Iran semakin tidak jelas setelah kematian Ali Khamenei.

“Pertanyaannya sekarang, siapa yang benar-benar memimpin? Bahkan Iran sendiri mungkin belum tahu,” kata dia.

Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini menjadi perhatian internasional karena berpotensi memicu konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Baca berita internasional terbaru lainnya di https://JurnalLugas.Com.

(PW)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait