JurnalLugas.Com — Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, kembali melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat terkait eskalasi konflik dengan Iran. Dalam pernyataannya, Lula menilai alasan yang digunakan Washington untuk membenarkan operasi militer tidak memiliki dasar yang kuat.
Berbicara kepada media di wilayah timur laut Brasil, Lula menegaskan bahwa narasi mengenai ancaman nuklir Iran tidak bisa dijadikan legitimasi perang. Ia bahkan menyebut klaim tersebut sebagai bentuk manipulasi politik global.
“Kita tidak bisa terus membenarkan konflik dengan alasan yang tidak terbukti. Dunia sudah pernah melihat pola ini,” ujarnya singkat.
Bayang-bayang Kasus Irak
Lula secara implisit mengaitkan situasi ini dengan pengalaman masa lalu di Irak, ketika tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal menjadi dasar intervensi militer Barat. Fakta bahwa senjata tersebut tak pernah ditemukan menjadi pelajaran penting yang, menurutnya, seharusnya tidak diulang.
“Sejarah memberi kita pelajaran bahwa informasi bisa dipelintir. Karena itu, dunia harus lebih kritis,” kata Lula dalam kutipan lain.
PBB Diminta Lebih Tegas
Dalam konteks global, Lula mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk tidak pasif menghadapi konflik yang berpotensi meluas. Ia menilai Dewan Keamanan PBB harus mengambil posisi yang lebih tegas dan berbasis pada fakta.
Menurutnya, legitimasi internasional tidak boleh dibangun di atas asumsi sepihak, apalagi jika berujung pada instabilitas global.
Ketegangan geopolitik tersebut telah memberikan dampak nyata bagi Brasil. Gangguan distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, membuat harga minyak melonjak tajam.
Kondisi ini berimbas pada kenaikan harga bahan bakar dalam negeri dan memperbesar tekanan ekonomi masyarakat.
“Kenaikan harga energi bukan sekadar angka. Ini menyentuh langsung kehidupan rakyat kecil,” ujar Lula menekankan.
Sebagai respons, pemerintah Brasil mengambil langkah taktis dengan menurunkan pajak bahan bakar serta memperketat pengawasan distribusi energi. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi kelompok rentan.
Lula menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan eksternal yang berpotensi mengganggu kesejahteraan rakyat.
Serangan militer gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari menjadi pemicu utama ketegangan terbaru. Selain mengganggu jalur pelayaran, konflik ini juga memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari inflasi hingga ketidakstabilan pasar internasional.
Di tengah situasi tersebut, Lula kembali mengingatkan pentingnya pendekatan diplomatik.
“Perang hanya memperpanjang masalah. Dunia membutuhkan solusi yang rasional dan damai,” tutupnya.
Baca analisis global lainnya di: https://JurnalLugas.Com
(HD)






