Saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) Ambruk 40% Sepekan, Terjebak ARB Beruntun Meski Laba Naik

JurnalLugas.Com — Gejolak pasar kembali memperlihatkan wajah kerasnya. Di tengah optimisme kinerja fundamental, saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) justru terseret arus jual yang agresif hingga mencatatkan penurunan tajam sepanjang pekan ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, saham DATA menjadi emiten dengan performa terburuk setelah ambles 39,94 persen ke level Rp2.180 per saham per Kamis (2/4/2026). Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi biasa—melainkan koreksi dalam yang berlangsung konsisten selama enam hari perdagangan berturut-turut.

Bacaan Lainnya

Lebih mencolok lagi, dalam tiga sesi perdagangan terakhir, saham DATA terus menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), mencerminkan derasnya tekanan jual tanpa perlawanan berarti dari sisi permintaan.

Tekanan Teknikal Dominan, Investor Diminta Waspada

Senior Market Analyst menilai pergerakan saham DATA saat ini berada dalam fase tren menurun (downtrend) yang kuat. Kondisi tersebut membuat pendekatan terbaik bagi investor adalah bersikap hati-hati.

Dalam keterangannya, analis menyebut posisi teknikal DATA belum menunjukkan sinyal pembalikan arah. Ia menegaskan bahwa investor sebaiknya menunggu momentum yang lebih jelas dengan level support terdekat berada di kisaran Rp1.665.

Baca Juga  PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) Bagikan Dividen Interim

Fenomena ini, menurutnya, terjadi akibat ketidakseimbangan antara suplai dan demand di pasar. Lonjakan aksi jual yang tidak diimbangi minat beli menyebabkan harga tertekan secara berkelanjutan.

Valuasi Masih Tinggi, Jadi Beban Tambahan

Di luar faktor teknikal, tekanan terhadap saham DATA juga datang dari sisi valuasi. Meskipun harga telah terkoreksi dalam, rasio price-to-earnings (P/E) perseroan masih berada di level 27,5 kali—jauh di atas rata-rata industri yang berkisar 16 kali.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa saham DATA masih tergolong mahal di mata pasar, sehingga ruang koreksi tetap terbuka, terutama di tengah sentimen global dan domestik yang belum stabil.

Selain itu, volatilitas pasar saham Indonesia belakangan ini turut memperburuk situasi. Saham-saham lapis menengah (mid cap) dan kecil (small cap), termasuk DATA, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tekanan tersebut.

Kinerja Fundamental Tumbuh, Tapi Tak Cukup Menahan Koreksi

Menariknya, tekanan harga saham ini tidak sepenuhnya sejalan dengan kinerja fundamental perusahaan. Sepanjang 2025, DATA justru mencatatkan pertumbuhan yang cukup solid.

Pendapatan perusahaan meningkat menjadi Rp430,35 miliar, naik sekitar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp348,19 miliar. Kenaikan ini turut mendorong laba bruto menjadi Rp319,56 miliar dari Rp259,22 miliar.

Baca Juga  Saham GOTO Melonjak, Pergantian Direksi hingga Isu Merger Grab Jadi Sorotan

Dari sisi operasional, laba usaha juga mengalami peningkatan menjadi Rp168,28 miliar dari Rp146,02 miliar. Namun, tekanan muncul dari lonjakan beban keuangan yang melonjak signifikan menjadi Rp15,27 miliar, dari sebelumnya Rp3,01 miliar.

Akibatnya, laba sebelum pajak justru mengalami penurunan menjadi Rp139,21 miliar. Meski demikian, laba bersih tetap mencatat pertumbuhan menjadi Rp105,62 miliar dibandingkan Rp99,44 miliar pada tahun sebelumnya.

Pasar Tak Selalu Sejalan dengan Fundamental

Kasus DATA menjadi pengingat bahwa pasar saham tidak hanya digerakkan oleh kinerja fundamental, tetapi juga dipengaruhi oleh sentimen, psikologi investor, serta dinamika teknikal.

Ketika valuasi dianggap terlalu tinggi dan tekanan jual meningkat, bahkan kinerja keuangan yang positif pun belum tentu mampu menahan laju penurunan harga saham.

Dalam situasi seperti ini, disiplin analisis dan manajemen risiko menjadi kunci utama bagi investor agar tidak terjebak dalam euforia maupun kepanikan pasar.

Baca berita ekonomi dan pasar saham lainnya di JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait