JurnalLugas.Com – Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa langsung mengguncang pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi lebih dari 1 persen. Namun, di tengah tekanan tersebut, justru saham sektor rokok yang mencatatkan lonjakan tajam.
Perbankan Tertekan, Rokok Jadi Penyelamat
Saham-saham perbankan besar mengalami penurunan signifikan usai pengumuman reshuffle. Investor terlihat melakukan aksi jual karena menilai perubahan di pucuk pimpinan fiskal memberi ketidakpastian baru bagi sektor keuangan.
Sebaliknya, emiten rokok justru menjadi primadona perdagangan dengan kenaikan harga yang cukup mencolok pada sesi penutupan.
Empat Saham Rokok yang Menguat Tajam
Empat saham utama di sektor rokok berhasil ditutup menguat dengan kenaikan dua digit, yakni:
- Gudang Garam (GGRM) naik sekitar 12,5 persen ke posisi Rp9.900 per saham.
- HM Sampoerna (HMSP) melonjak hingga 17,7 persen ke level Rp630.
- Wismilak Inti Makmur (WIIM) menguat 16,3 persen ke Rp925.
- Indonesian Tobacco (ITIC) ditutup naik 11,6 persen ke Rp250.
Kenaikan ini terjadi terutama di menit-menit akhir perdagangan, menandakan adanya arus beli signifikan yang masuk ke sektor ini.
Sentimen Pasar: Cukai Jadi Faktor Utama
Lonjakan saham rokok diyakini berkaitan dengan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan fiskal baru. Selama masa kepemimpinan Sri Mulyani, industri rokok kerap mendapat tekanan lewat kebijakan kenaikan cukai yang cukup agresif.
Dengan adanya pergantian menteri, pelaku pasar menilai kemungkinan adanya perubahan kebijakan yang lebih bersahabat bagi industri tembakau. Hal inilah yang mendorong aksi borong di bursa.
Reshuffle kabinet yang menggantikan Sri Mulyani ternyata memberi dampak berlawanan bagi pasar saham. Sektor perbankan terpukul, sementara saham rokok justru terbang tinggi. Pergerakan ini menandai adanya rotasi minat investor yang patut dicermati dalam beberapa pekan ke depan.
Untuk update analisis pasar dan berita ekonomi terkini, kunjungi JurnalLugas.Com.






