JurnalLugas.Com — Keputusan Inggris untuk tidak terlibat dalam rencana blokade Selat Hormuz yang digagas Amerika Serikat menjadi sinyal penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Langkah ini menegaskan posisi London yang tetap berpegang pada prinsip kebebasan navigasi internasional, sekaligus menjaga stabilitas jalur perdagangan vital dunia.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari sumber pemerintah, Inggris menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka dan bebas dari segala bentuk pembatasan. Jalur tersebut dinilai krusial, bukan hanya bagi arus energi global, tetapi juga berdampak langsung pada kestabilan harga dan biaya hidup masyarakat di berbagai negara.
“Selat Hormuz tidak boleh dikenakan pungutan,” ujar perwakilan pemerintah Inggris dalam pernyataan singkatnya, Minggu (12/4/2026).
Pernyataan itu muncul sebagai respons atas wacana blokade yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Rencana tersebut memicu kekhawatiran luas karena Selat Hormuz merupakan salah satu titik choke point paling strategis dalam distribusi minyak dunia.
Alih-alih mengikuti langkah Washington, Inggris justru memperkuat koordinasi dengan negara-negara Eropa. Pemerintah Inggris kini bergerak cepat membangun kerja sama dengan Prancis serta mitra internasional lainnya guna memastikan jalur laut tetap aman dan terbuka bagi semua pihak.
Pendekatan ini mencerminkan strategi berbeda yang diambil Inggris, yakni mengedepankan diplomasi dan stabilitas ketimbang eskalasi militer. Di tengah situasi global yang rentan, upaya membangun koalisi penjaga kebebasan navigasi dinilai lebih efektif untuk mencegah konflik terbuka.
Sementara itu, pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut Inggris akan mengirim kapal penyapu ranjau ke kawasan tersebut tidak mendapat konfirmasi dari pihak London. Hal ini memperjelas adanya perbedaan sikap antara kedua sekutu lama tersebut dalam merespons krisis di kawasan Teluk.
Analis menilai keputusan Inggris bisa menjadi penentu arah respons negara-negara Barat lainnya. Jika lebih banyak negara mengikuti pendekatan serupa, maka potensi eskalasi konflik dapat ditekan, sekaligus menjaga stabilitas pasar energi global yang saat ini masih sensitif terhadap isu geopolitik.
Situasi di Selat Hormuz sendiri terus menjadi perhatian dunia. Setiap kebijakan yang berkaitan dengan jalur ini berpotensi memicu dampak luas, mulai dari lonjakan harga minyak hingga gangguan rantai pasok global.
Dengan posisi strategisnya, keputusan Inggris untuk tidak ikut dalam blokade menjadi pesan kuat bahwa stabilitas dan keterbukaan jalur perdagangan internasional tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika politik global yang semakin kompleks.
Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com
(PJ)






