Trump Tuduh Serangan Iran di Hormuz, Kapal Inggris-Prancis Jadi Target

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Donald Trump melontarkan tudingan serius terhadap Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut adanya aksi penembakan di Selat Hormuz sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.

Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi pada Sabtu (18/4), dengan sasaran tidak hanya kapal militer tetapi juga kapal komersial dari Eropa. “Iran memilih menembakkan peluru di Hormuz. Ini pelanggaran total terhadap kesepakatan kami,” ujarnya singkat.

Bacaan Lainnya

Pernyataan ini langsung memicu perhatian internasional, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global yang dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia.

Kapal Komersial Jadi Target, Risiko Global Meningkat

Laporan dari Reuters mengungkap bahwa sedikitnya dua kapal komersial diserang saat melintasi kawasan tersebut. Kapal-kapal itu disebut berasal dari Prancis dan Inggris, memperluas dampak konflik ke ranah internasional.

Serangan ini terjadi tak lama setelah Iran mengumumkan penguatan kontrol militernya di wilayah perairan strategis tersebut. Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal meningkatnya ketegangan, sekaligus mempersempit ruang diplomasi yang sebelumnya dibuka.

Jejak Konflik, Dari Serangan Militer hingga Gencatan Senjata Rapuh

Akar konflik terbaru ini tidak lepas dari rangkaian peristiwa sebelumnya. Pada akhir Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Operasi tersebut menyebabkan kerusakan signifikan dan korban sipil, memicu kecaman luas.

Situasi sempat mereda ketika Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata sementara pada 7 April. Namun, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad pada 11 April gagal menghasilkan kesepakatan konkret.

Sejak itu, ketegangan kembali meningkat. Amerika Serikat dilaporkan mulai memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara jalur diplomasi berjalan di tempat.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Upaya mediator internasional untuk menghidupkan kembali negosiasi masih terus dilakukan, tetapi peluangnya semakin menipis. Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang berpotensi meluas jika tidak segera dikendalikan.

Pengamat menilai, insiden di Selat Hormuz bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan sinyal kuat bahwa gencatan senjata yang ada sangat rapuh. Jika konflik berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan kawasan Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global.

Ketegangan ini menjadi ujian besar bagi stabilitas internasional, terutama dalam menjaga jalur perdagangan energi tetap aman di tengah konflik geopolitik yang kian kompleks.

Baca selengkapnya berita investigatif dan analisis mendalam hanya di JurnalLugas.Com

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait