Ekspor Unggas RI Melejit, Rp18,2 Miliar di 3 Bulan, Dunia Mulai Lirik Indonesia

JurnalLugas.Com — Kinerja ekspor sektor peternakan Indonesia memasuki fase baru. Di tengah penguatan produksi dalam negeri, komoditas unggas nasional mulai menembus pasar global dengan nilai yang terus meningkat. Hingga Maret 2026, ekspor produk unggas tercatat mencapai Rp18,2 miliar, menandai momentum penting dalam transformasi industri perunggasan nasional.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa ekspor tersebut mencakup berbagai produk unggas dengan total volume 545 ton. Negara tujuan utama meliputi Singapura, Jepang, hingga Timor Leste pasar yang dikenal memiliki standar ketat terhadap kualitas pangan.

Bacaan Lainnya

“Ekspor kita sampai Maret ini sudah 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar. Ini menunjukkan produksi dalam negeri tidak hanya cukup, tapi juga kompetitif di pasar global,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Minggu (19/4/2026).

Dominasi ekspor masih dipegang oleh telur konsumsi yang mencapai 517 ton atau setara sekitar 8,13 juta butir. Sementara sisanya berasal dari daging ayam serta produk olahan bernilai tambah yang mulai menunjukkan tren peningkatan signifikan.

Lonjakan Konsisten dan Strategi Ekspansi

Data Kementerian Pertanian memperlihatkan tren ekspor unggas yang terus tumbuh dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024, volume ekspor berada di kisaran 300 ton dengan nilai sekitar Rp11 miliar. Angka ini meningkat pada 2025 menjadi sekitar 400 ton dengan nilai Rp13–15 miliar. Memasuki 2026, lonjakan signifikan terlihat hanya dalam triwulan pertama.

Kenaikan ini tidak terjadi secara kebetulan. Pemerintah mendorong ekspansi pasar secara agresif, memperkuat diplomasi perdagangan, serta membuka akses ke negara-negara baru. Strategi ini berjalan seiring dengan penguatan fondasi produksi dalam negeri yang kini berada pada posisi surplus.

Surplus Produksi Jadi Modal Utama

Indonesia saat ini mencatat produksi daging ayam ras mencapai 4,29 juta ton per tahun, sementara konsumsi berada di angka 4,12 juta ton. Di sektor telur, produksi mencapai 6,54 juta ton dengan konsumsi sekitar 6,47 juta ton.

Surplus ini menjadi ruang strategis bagi ekspor tanpa mengganggu kebutuhan domestik. “Kondisi produksi kita memungkinkan ekspansi keluar, tanpa risiko kekurangan di dalam negeri,” kata Amran.

Keberhasilan ini juga dikaitkan dengan capaian swasembada protein hewani yang mulai dirasakan dampaknya. Tidak hanya ayam dan telur, pemerintah menilai sektor pangan lain juga menunjukkan tren positif menuju kemandirian.

Pergeseran ke Produk Olahan Bernilai Tinggi

Transformasi lain yang mulai terlihat adalah perubahan struktur ekspor. Jika sebelumnya didominasi produk mentah, kini ekspor mulai bergerak ke produk olahan seperti nugget dan karaage.

Langkah ini dinilai strategis karena meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing di pasar internasional. Produk olahan juga lebih fleksibel dalam penetrasi pasar karena memiliki daya tahan dan standar distribusi yang lebih luas.

Penguatan Standar dan Akses Global

Untuk menjaga konsistensi ekspor, pemerintah memperketat sistem kesehatan hewan, biosekuriti, serta sertifikasi veteriner. Standar ini menjadi kunci agar produk unggas Indonesia dapat diterima di pasar global yang semakin selektif.

Selain itu, diplomasi perdagangan terus diperkuat guna membuka peluang ekspor baru. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok global sektor pangan.

Target Jangka Panjang, Dari Swasembada ke Eksportir Kuat

Ke depan, pemerintah menargetkan peningkatan ekspor tidak hanya dari sisi volume, tetapi juga nilai ekonomi. Hilirisasi industri dan penguatan sektor pengolahan menjadi fokus utama dalam strategi tersebut.

“Dengan tren ini, Indonesia tidak lagi sekadar swasembada, tetapi mulai masuk sebagai eksportir unggas yang diperhitungkan dunia,” tegas Amran.

Momentum ini sekaligus membuka peluang bagi peternak lokal untuk mendapatkan nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat produksi.

Dengan fondasi produksi yang kuat, strategi ekspansi yang agresif, serta peningkatan kualitas produk, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi kekuatan baru dalam perdagangan unggas global.

Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait