JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat memasuki fase yang semakin kompleks. Situasi di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, kini tidak lagi berada dalam pola konflik biasa, melainkan menunjukkan perubahan arah yang signifikan.
Analis kebijakan luar negeri Iran, Abas Aslani, menegaskan bahwa kondisi kawasan tidak akan kembali ke situasi sebelum konflik pecah. Menurutnya, dinamika terbaru menunjukkan bahwa keseimbangan lama telah runtuh.
“Tidak ada lagi status seperti sebelumnya. Situasi sudah berubah secara mendasar,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan eskalasi yang terus meningkat setelah rangkaian serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Serangan Infrastruktur Sipil Dinilai Tanda Kegagalan Strategi
Dalam analisanya, Aslani menyoroti pola serangan yang tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga infrastruktur sipil seperti fasilitas energi, kesehatan, hingga pusat riset.
Ia menilai hal tersebut sebagai indikasi bahwa tujuan strategis utama belum tercapai.
“Ketika target militer tidak terpenuhi, tekanan dialihkan ke sektor sipil untuk melemahkan negara,” katanya.
Serangan terhadap fasilitas vital, termasuk instalasi nuklir sipil, disebut berpotensi menimbulkan dampak serius tidak hanya bagi Iran, tetapi juga bagi stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Selain itu, kerusakan pada infrastruktur transportasi dan industri turut memperbesar beban ekonomi domestik, sekaligus memperumit tata kelola negara di tengah tekanan konflik.
Iran Membalas, Selat Hormuz Jadi Kunci Strategis
Di sisi lain, Iran menunjukkan respons yang tegas melalui serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke berbagai target yang dianggap terkait dengan pihak penyerang.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan militer Iran masih terjaga dan mampu memberikan tekanan balik secara signifikan.
Selat Hormuz menjadi faktor kunci dalam dinamika ini. Jalur tersebut merupakan salah satu titik terpenting dalam distribusi energi global, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasar internasional.
Pengendalian terhadap selat ini memberikan leverage strategis bagi Iran, sekaligus meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap potensi krisis energi dan gangguan rantai pasok global.
Kalkulasi Geopolitik AS Dinilai Melenceng
Aslani juga menilai pendekatan Amerika Serikat terhadap Iran sebagai kesalahan dalam membaca situasi. Ia menyebut bahwa strategi yang digunakan tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
“Mereka menggunakan pendekatan yang tidak relevan dengan kondisi Iran saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, asumsi bahwa Iran dapat ditekan dengan pola yang sama seperti negara lain terbukti tidak efektif. Justru sebaliknya, konflik ini memperlihatkan daya tahan dan kapasitas respons Iran yang masih kuat.
Hal ini sekaligus menandakan bahwa upaya untuk mengubah tatanan politik dan melemahkan kemampuan militer Iran belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Eskalasi konflik di kawasan ini membawa dampak luas, tidak hanya bagi negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi dunia secara keseluruhan.
Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi global serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.
Lebih jauh, konflik berkepanjangan ini juga dinilai dapat memengaruhi persepsi global terhadap peran Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas internasional.
Dengan situasi yang terus berkembang dan belum menunjukkan tanda mereda, dunia kini menghadapi realitas baru, konflik di Asia Barat telah berubah menjadi isu strategis global yang berdampak pada keamanan, ekonomi, dan tatanan geopolitik jangka panjang.
Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com
(HD)






