JurnalLugas.Com — Meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran publik mengenai stabilitas ekonomi nasional. Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, berbagai spekulasi mengenai kemungkinan terulangnya krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1997-1998 mulai ramai diperbincangkan.
Namun pemerintah memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam fondasi yang jauh lebih kuat dibandingkan era krisis moneter dua dekade lalu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar global dan bukan mencerminkan kerentanan fundamental ekonomi domestik.
Menurutnya, indikator utama perekonomian nasional masih menunjukkan kinerja yang sehat. Kondisi fiskal dinilai tetap terjaga, sementara aktivitas ekonomi nasional masih tumbuh secara positif di tengah berbagai tantangan eksternal yang terjadi di pasar keuangan dunia.
“Perekonomian Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang baik. Yang terjadi lebih banyak dipengaruhi faktor sentimen pasar yang berdampak pada pergerakan nilai tukar,” ujarnya saat kunjungan kerja di kawasan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu 06 Juni 2026.
Pernyataan tersebut menjadi respons atas kekhawatiran sebagian kalangan setelah rupiah untuk pertama kalinya menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan pekan ini. Angka tersebut memunculkan memori kolektif masyarakat terhadap gejolak ekonomi besar yang pernah mengguncang Indonesia pada akhir 1990-an.
Meski demikian, pemerintah menilai situasi saat ini tidak dapat disamakan dengan kondisi krisis moneter masa lalu. Saat itu, Indonesia menghadapi kombinasi masalah perbankan, utang luar negeri yang tinggi, ketidakstabilan politik, serta lemahnya koordinasi kebijakan ekonomi.
Saat ini, pemerintah bersama Bank Indonesia disebut terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas pasar keuangan dan meningkatkan kepercayaan investor. Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter agar mampu menarik kembali aliran modal asing ke dalam negeri.
Strategi tersebut mencakup peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik sehingga investor memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia. Selain itu, pengelolaan likuiditas juga akan diperkuat melalui koordinasi pengelolaan kas pemerintah dan sektor perbankan.
Langkah sinkronisasi tersebut diyakini mampu membantu menstabilkan nilai tukar rupiah sekaligus mengurangi tekanan biaya yang selama ini dirasakan sejumlah pelaku usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Pemerintah optimistis stabilitas ekonomi nasional dapat terus terjaga seiring kuatnya dukungan kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Kepercayaan pasar juga diharapkan meningkat melalui konsistensi pelaksanaan program pembangunan dan reformasi ekonomi yang sedang berjalan.
Di tengah gejolak global, pemerintah mengingatkan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, serta memastikan daya beli masyarakat tetap terpelihara.
Dengan fundamental ekonomi yang dinilai lebih solid dibandingkan masa lalu, pemerintah meyakini Indonesia memiliki kapasitas yang cukup untuk menghadapi tekanan eksternal tanpa harus terjerumus ke dalam krisis seperti yang pernah terjadi pada 1998.
Baca berita ekonomi dan kebijakan terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






