BBM Nonsubsidi Naik, BI Pastikan Dampak Inflasi Minim

filling gas at a gas station

JurnalLugas.Com – Bank Indonesia memastikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak akan mengguncang stabilitas harga secara signifikan. Proyeksi terbaru menunjukkan dampaknya terhadap inflasi April 2026 relatif kecil, hanya sekitar 0,04 persen.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa kontribusi BBM nonsubsidi terhadap struktur inflasi nasional memang terbatas. Dengan bobot yang kecil dalam keranjang inflasi, kenaikan harga energi ini dinilai tidak akan mengganggu target inflasi tahunan.

Bacaan Lainnya

“Secara keseluruhan, inflasi tetap terjaga dalam kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen, baik untuk 2026 maupun 2027,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI.

Tekanan Global Jadi Variabel Kunci

Di tengah dinamika global, BI mencermati adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Proyeksi produk domestik bruto (PDB) global untuk 2026 direvisi turun dari 3,1 persen menjadi 3,0 persen. Kondisi ini menjadi faktor eksternal yang turut memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.

Meski demikian, prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap solid. BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan global.

Strategi Redam Inflasi Terus Diperkuat

Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama pemerintah pusat dan daerah mengandalkan sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID). Salah satu langkah konkret dilakukan lewat penguatan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Deputi Gubernur BI lainnya, Ricky P. Gozali, menambahkan bahwa dampak kenaikan BBM tidak hanya langsung, tetapi juga merambat ke harga barang dan jasa melalui jalur distribusi dan biaya produksi.

“Tekanan global, terutama dari harga energi, perlu diantisipasi melalui respons cepat di seluruh daerah,” katanya.

BI mengandalkan jaringan 46 kantor perwakilan di dalam negeri untuk memantau dan merespons potensi tekanan inflasi, termasuk risiko dari sektor pangan akibat fenomena iklim seperti El Nino yang dapat memicu kemarau panjang.

Fokus pada Distribusi dan Pasokan Pangan

Selain pengendalian harga energi, stabilitas pangan menjadi prioritas utama. Berbagai langkah ditempuh, mulai dari penguatan distribusi logistik, kerja sama antar-daerah antara wilayah surplus dan defisit, hingga pelaksanaan pasar murah.

Upaya ini diarahkan untuk memastikan tiga hal utama tetap terjaga: kecukupan pasokan, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga di tingkat konsumen.

Pengawasan BBM Subsidi Diperketat

Koordinasi juga diperluas dengan Satuan Tugas Pengawasan BBM Bersubsidi di daerah. Langkah ini bertujuan memastikan distribusi BBM subsidi tepat sasaran, sehingga tidak menimbulkan distorsi harga di lapangan.

Dengan kombinasi kebijakan moneter, koordinasi lintas sektor, dan penguatan distribusi, BI optimistis tekanan inflasi akibat kenaikan BBM nonsubsidi tetap terkendali.

Baca selengkapnya berita ekonomi terkini di JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait