JurnalLugas.Com — Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui program Percepatan Intermediasi Nasional atau PINISI. Inisiatif ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pembiayaan di sektor riil dengan likuiditas perbankan yang masih longgar.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar ketersediaan dana, melainkan bagaimana mempertemukan kebutuhan kredit dengan kesiapan penyaluran dari perbankan. Ia menjelaskan, masih terdapat mismatch antara pihak yang membutuhkan pembiayaan dan bank yang memiliki kapasitas penyaluran kredit.
Menurutnya, kondisi siklus keuangan domestik yang masih berada di bawah tren makroekonomi justru membuka peluang ekspansi kredit lebih luas. Artinya, peningkatan pembiayaan dapat dilakukan tanpa memicu tekanan inflasi yang signifikan karena kapasitas ekonomi dinilai masih memadai.
Program PINISI hadir sebagai instrumen kebijakan makroprudensial yang berfokus pada optimalisasi fungsi intermediasi perbankan. Tidak hanya itu, BI juga mendorong percepatan penyelesaian hambatan pembiayaan proyek strategis melalui pendekatan debottlenecking yang lebih terstruktur.
Dalam implementasinya, pendekatan pembiayaan tidak lagi bertumpu pada kredit konvensional semata. BI mulai mengarahkan pada skema blended finance, yakni kombinasi berbagai sumber pendanaan untuk memperluas akses dan efisiensi pembiayaan proyek.
Selain mempercepat akses pembiayaan, penguatan sistem monitoring menjadi perhatian utama. Pendekatan end-to-end ecosystem financing diterapkan guna memastikan bahwa pembiayaan tidak berhenti pada komitmen, tetapi benar-benar terealisasi hingga tahap implementasi proyek.
Di sisi lain, kualitas proyek juga menjadi sorotan. BI menilai perlunya peningkatan kesiapan proyek, termasuk aspek perencanaan dan kelayakan pembiayaan (bankability), terutama pada proyek-proyek strategis pemerintah yang masuk dalam pipeline nasional.
Dalam jangka panjang, PINISI ditargetkan mampu menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih optimal, hati-hati, dan inovatif. Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas eksekusi proyek serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkualitas.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menekankan bahwa keberhasilan PINISI sangat bergantung pada sinergi lintas sektor. Ia menyebut ada tiga semangat utama yang menjadi fondasi program ini.
Pertama, kolaborasi antara pemerintah, otoritas keuangan, perbankan, investor, dan pelaku usaha untuk mencapai tujuan bersama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kedua, optimalisasi berbagai inisiatif yang sudah berjalan, tanpa perlu menciptakan skema baru yang redundan. Fokusnya adalah memperkuat dan mengintegrasikan program yang telah ada agar lebih efektif.
Ketiga, memastikan bahwa PINISI menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar forum diskusi. Output yang diharapkan berupa kesepakatan pembiayaan konkret hingga realisasi proyek di lapangan.
Perry juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga optimisme dan komitmen dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui sinergi yang berkelanjutan.
Dari sisi kinerja, data terbaru menunjukkan tren positif. Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Februari yang mencapai 9,37 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan kredit investasi yang mencapai 20,85 persen, disusul kredit konsumsi 5,88 persen dan kredit modal kerja 4,38 persen.
BI memproyeksikan pertumbuhan kredit tetap berada dalam kisaran 8 hingga 12 persen sepanjang 2026. Proyeksi ini didukung oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran pembiayaan yang semakin solid.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, PINISI diharapkan menjadi katalis baru dalam memperkuat struktur pembiayaan nasional sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global.
Sumber selengkapnya: https://jurnalluguas.com
(ED)






