Ngawur AS Tolak Kendali Iran atas Selat Hormuz

Marco Rubio dan Donald Trump
Marco Rubio dan Donald Trump

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah pemerintah Amerika Serikat menegaskan sikap keras terhadap wacana pengaturan jalur pelayaran internasional oleh Iran di Selat Hormuz. Jalur vital yang menjadi nadi perdagangan energi global itu kini kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan bahwa Washington tidak akan menerima skema apa pun yang memberi kewenangan kepada Iran untuk menentukan siapa yang boleh melintas di jalur perairan internasional tersebut, termasuk upaya mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.

Bacaan Lainnya

Dalam pernyataannya pada Senin (27/4/2026), Rubio menegaskan bahwa kebijakan semacam itu berpotensi menciptakan preseden berbahaya dalam hukum maritim internasional. Ia menyebut, kebebasan navigasi adalah prinsip yang tidak bisa dinegosiasikan.

“Tidak ada ruang bagi normalisasi aturan sepihak yang memungkinkan satu negara mengontrol akses jalur internasional dan menetapkan biaya secara sepihak,” ujar Rubio secara tegas.

Di tengah meningkatnya tensi, Presiden AS, Donald Trump, disebut memiliki kewenangan penuh untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk opsi militer terhadap Iran. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa konflik berpotensi meluas jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.

Sementara itu, dari pihak Teheran, Presiden Iran Masoud Pesheshkian menunjukkan sikap yang tidak kalah keras. Dalam komunikasi dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Minggu (26/4/2026), ia menegaskan bahwa Iran tidak akan terlibat dalam perundingan damai jika berada di bawah tekanan atau ancaman.

Pesheshkian juga menyoroti isu blokade di Selat Hormuz sebagai hambatan utama dalam proses dialog. Ia meminta agar Amerika Serikat menghapus segala bentuk pembatasan sebagai syarat awal untuk melanjutkan pembicaraan.

“Dialog hanya bisa berjalan jika semua bentuk tekanan dihentikan,” demikian pernyataan singkat yang disampaikan dalam percakapan tersebut.

Di sisi lain, upaya diplomasi tampak mengalami kemunduran. Presiden Trump sebelumnya membatalkan rencana perjalanan utusan khususnya, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan yang dijadwalkan menjadi lokasi perundingan lanjutan dengan Iran. Pembatalan ini dinilai sebagai indikasi bahwa jalur negosiasi tengah menghadapi hambatan serius.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, dengan sekitar sepertiga pasokan minyak global melewati kawasan tersebut. Setiap ketegangan yang terjadi di wilayah ini memiliki dampak langsung terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.

Pengamat hubungan internasional menilai, situasi saat ini mencerminkan kebuntuan klasik antara tekanan politik dan kepentingan strategis. Tanpa kompromi dari kedua pihak, risiko eskalasi konflik akan terus meningkat.

Dengan posisi yang semakin mengeras dari Washington maupun Teheran, dunia kini menanti apakah diplomasi masih memiliki ruang, atau justru konflik terbuka yang akan menjadi bab berikutnya dalam dinamika kawasan Timur Tengah.

Baca analisis mendalam lainnya di https://JurnalLugas.Com

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait