JurnalLugas.Com β PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali menunjukkan ketahanan bisnisnya di awal tahun 2026. Bank pelat merah tersebut membukukan laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I 2026, atau meningkat sekitar 13,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif ini menjadi sinyal bahwa sektor perbankan nasional masih berada dalam jalur pertumbuhan, meski diiringi dinamika risiko yang mulai ikut meningkat di beberapa indikator kualitas kredit.
Kredit Selektif Dorong Pertumbuhan Laba
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa capaian tersebut tidak lepas dari strategi penyaluran kredit yang lebih selektif, efisiensi biaya dana, serta pengelolaan risiko yang tetap dijaga.
Dalam pemaparannya pada taklimat kinerja keuangan, Hery menyebut bahwa fundamental bisnis perseroan masih solid di tengah tekanan industri perbankan yang semakin kompetitif.
Secara ringkas, ia menekankan bahwa pertumbuhan laba BRI ditopang oleh kombinasi ekspansi kredit yang terukur dan efisiensi pendanaan yang lebih baik.
Pendapatan Bunga Naik, Beban Turun
Dari sisi kinerja operasional, BRI mencatat pendapatan bunga sebesar Rp52,83 triliun, tumbuh hampir 6 persen secara tahunan. Sementara itu, beban bunga justru turun lebih dari 9 persen menjadi Rp12,68 triliun.
Kondisi ini memperkuat margin bunga bersih (NIM) bank, yang menjadi salah satu penopang utama profitabilitas di sektor perbankan.
Kredit Tembus Rp1.497 Triliun, UMKM Masih Jadi Motor
Pada sisi intermediasi, total kredit dan pembiayaan BRI mencapai sekitar Rp1.497 triliun hingga Maret 2026, tumbuh 13 persen secara tahunan.
Porsi besar penyaluran masih diarahkan ke sektor produktif, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tercatat Rp47,09 triliun kepada ratusan ribu pelaku usaha, sementara pembiayaan perumahan melalui skema FLPP juga terus berjalan dengan nilai lebih dari Rp17 triliun.
Pertumbuhan ini memperlihatkan peran BRI yang masih dominan dalam pembiayaan sektor kerakyatan, sekaligus mendukung perluasan akses keuangan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Tekanan Kualitas Kredit Mulai Terlihat
Di balik pertumbuhan agresif tersebut, indikator risiko kredit menunjukkan sedikit peningkatan. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto naik ke level 3,31 persen, sementara NPL net berada di 1,01 persen.
Kenaikan ini mengindikasikan bahwa ekspansi kredit yang kuat mulai diikuti dengan tantangan pada kualitas aset, yang menjadi perhatian utama industri perbankan ke depan.
Dana Pihak Ketiga Tumbuh Stabil
Dari sisi pendanaan, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.555 triliun, tumbuh 9,4 persen secara tahunan.
Komposisi dana murah atau CASA masih dominan di level 68,1 persen, yang menunjukkan efisiensi biaya dana tetap terjaga meskipun persaingan likuiditas di pasar semakin ketat.
Rasio loan to deposit ratio (LDR) tercatat naik ke 87,66 persen, mencerminkan fungsi intermediasi yang semakin aktif namun dengan ruang likuiditas yang mulai menipis.
Aset Tembus Rp2.249 Triliun
Hingga akhir kuartal I 2026, total aset konsolidasi BRI mencapai sekitar Rp2.249 triliun, tumbuh lebih dari 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini memperkuat posisi BRI sebagai salah satu bank dengan skala aset terbesar di Indonesia.
Kinerja BRI pada awal 2026 menunjukkan kombinasi antara pertumbuhan profit yang solid dan ekspansi kredit yang tetap agresif, meski diiringi tantangan pada kualitas kredit. Ke depan, keseimbangan antara pertumbuhan dan pengendalian risiko akan menjadi kunci menjaga momentum kinerja perseroan.
βBRI tetap fokus menjaga fundamental bisnis agar tetap sehat di tengah dinamika industri,β demikian rangkuman pernyataan manajemen dalam paparan kinerja terbaru.
Baca berita lainnya
https://www.jurnallugas.com
(ED)






