Telkom Cetak Pendapatan Rp37,2 Triliun di Awal 2026, Transformasi Digital Mesin Pertumbuhan

JurnalLugas.Com – Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan ketahanan bisnisnya dengan mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada kuartal pertama 2026. Kinerja tersebut menjadi sinyal positif bahwa strategi transformasi yang dijalankan perusahaan mulai memberikan hasil yang nyata.

Perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun sepanjang Januari-Maret 2026. Angka itu meningkat 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi fondasi penting bagi langkah ekspansi bisnis digital yang tengah dijalankan grup Telkom.

Bacaan Lainnya

Direktur Utama Dian Siswarini menilai capaian awal tahun ini menjadi momentum untuk mempercepat agenda transformasi perusahaan yang dikenal dengan strategi TLKM 30.

Menurutnya, hasil yang diraih pada kuartal pertama menjadi dorongan bagi seluruh entitas TelkomGroup untuk terus meningkatkan kualitas bisnis, memperkuat daya saing, serta menghadirkan nilai tambah bagi pelanggan dan pemangku kepentingan.

Selain pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp18 triliun dengan margin mencapai 48,3 persen. Sementara laba bersih tercatat Rp4,3 triliun. Jika memperhitungkan normalisasi bisnis yang sedang berlangsung, laba bersih perusahaan mencapai Rp5,1 triliun.

Di sisi lain, arus kas operasional menunjukkan performa yang lebih kuat dengan pertumbuhan 3,1 persen secara tahunan menjadi Rp17,3 triliun. Peningkatan tersebut didorong oleh efisiensi belanja operasional dan pengelolaan penagihan yang lebih disiplin.

Bisnis Seluler dan Internet Rumah Masih Jadi Tulang Punggung

Segmen layanan konsumen tetap menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan Telkom. Melalui anak usahanya, Telkomsel, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen dibandingkan tahun lalu.

Baca Juga  Kinerja Moncer PT Bank OCBC NISP Tbk Cetak Laba Rp1,36 Triliun

Kinerja tersebut didukung meningkatnya penggunaan layanan data serta semakin stabilnya industri telekomunikasi nasional. Pendapatan rata-rata per pelanggan atau Average Revenue Per User (ARPU) layanan mobile tercatat naik 6,4 persen menjadi Rp45.100.

Peningkatan ARPU menunjukkan bahwa strategi penyederhanaan produk dan disiplin harga yang diterapkan operator mulai menghasilkan kualitas pendapatan yang lebih baik.

Manajemen Telkom memandang kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas dan internet terus meningkat sehingga prospek industri telekomunikasi masih sangat menjanjikan dalam jangka panjang.

Perusahaan juga berkomitmen memperkuat integrasi layanan seluler dan fixed broadband dengan fokus pada pengalaman pelanggan yang lebih baik.

Infrastruktur Digital Tumbuh Pesat

Pertumbuhan yang lebih agresif terlihat pada segmen infrastruktur bisnis. Pendapatan sektor B2B Infrastructure naik 6,8 persen secara tahunan menjadi Rp2,4 triliun.

Kontributor utama berasal dari pengembangan bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang dijalankan oleh Mitratel. Anak usaha Telkom tersebut membukukan pendapatan Rp2,3 triliun dengan margin EBITDA yang tetap tinggi di level 82,7 persen.

Sepanjang kuartal pertama 2026, Mitratel menambah jaringan serat optik sepanjang 1.080 kilometer. Dengan tambahan tersebut, total jaringan fiber optik yang dimiliki perusahaan kini mencapai lebih dari 58 ribu kilometer.

Ekspansi tersebut memperkuat posisi Telkom dalam membangun fondasi infrastruktur digital nasional yang semakin dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

Restrukturisasi B2B ICT Fokus pada Profitabilitas

Sementara itu, segmen layanan teknologi informasi dan komunikasi untuk korporasi atau B2B ICT membukukan pendapatan Rp3,1 triliun.

Meskipun pertumbuhannya belum secepat segmen lain, perusahaan menegaskan bahwa saat ini fokus utama berada pada proses restrukturisasi bisnis. Pendekatan yang lebih selektif dalam menjalin kerja sama baru dilakukan untuk menjaga kualitas proyek sekaligus meningkatkan profitabilitas jangka panjang.

Baca Juga  Laba PT Malindo Feedmill Anjlok 28% di Kuartal I-2025 Harga Ayam Broiler Jadi Biang Kerok

Langkah tersebut dipandang penting untuk memperkuat posisi kompetitif Telkom di tengah persaingan layanan digital dan solusi teknologi yang semakin ketat.

Belanja Modal Fokus ke Infrastruktur Inti

Dalam mendukung transformasi bisnis, Telkom mengalokasikan belanja modal sebesar Rp4,9 triliun pada kuartal pertama tahun ini. Nilai tersebut setara dengan 13,2 persen dari total pendapatan perusahaan.

Sebanyak 99 persen investasi diarahkan untuk pengembangan infrastruktur pada segmen bisnis inti, termasuk jaringan telekomunikasi dan layanan digital strategis.

Selain itu, Telkom juga tengah mempersiapkan tahap lanjutan pemisahan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga 2026. Di saat yang sama, proses divestasi AdMedika Group ditargetkan rampung pada akhir semester pertama tahun ini.

Manajemen optimistis langkah transformasi tersebut akan memperkuat struktur bisnis perusahaan sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru di masa mendatang.

Dengan kebutuhan internet yang terus meningkat dan percepatan digitalisasi di berbagai sektor, Telkom memasuki 2026 dengan strategi yang berfokus pada efisiensi, penguatan infrastruktur, serta pengembangan ekosistem digital yang lebih luas. Perusahaan meyakini transformasi yang sedang dijalankan akan menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tengah perubahan industri yang semakin cepat.

Sumber informasi dan artikel lainnya dapat diakses melalui JurnalLugas.Com.

(Hans)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait