Virus Demam Babi Klasik Hantam Jepang, Peternakan Langsung Ditutup

JurnalLugas.Com – Industri peternakan Jepang kembali menghadapi tekanan serius setelah otoritas setempat mengonfirmasi munculnya wabah baru demam babi klasik di Prefektur Shizuoka, wilayah Jepang bagian tengah. Kasus ini menjadi peringatan terbaru terhadap ancaman penyakit hewan menular yang terus membayangi sektor pangan negeri tersebut sepanjang 2026.

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang menyebutkan, infeksi ditemukan di sebuah peternakan babi di Kota Fujinomiya. Pemerintah langsung mengambil langkah darurat dengan memusnahkan hampir 3.000 ekor babi guna mencegah penyebaran virus ke wilayah lain.

Bacaan Lainnya

Laporan awal muncul setelah pihak peternakan melaporkan kematian sejumlah anak babi pada Senin (4/5). Tim inspeksi kemudian diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan lapangan dan pengujian laboratorium. Hasil investigasi memastikan ternak tersebut positif terjangkit demam babi klasik atau classical swine fever (CSF).

Baca Juga  Indonesia Catat Ekspor Biomassa Rp1,04 T ke Jepang PKS dan Wood Pellet Jadi Primadona Energi Hijau

Pejabat kementerian menyatakan seluruh hewan ternak di lokasi terdampak akan dimusnahkan melalui prosedur ketat, termasuk pembakaran dan penguburan sesuai standar pengendalian wabah nasional.

“Langkah cepat diperlukan agar penyebaran virus tidak meluas ke area peternakan lain,” ujar perwakilan otoritas pertanian Jepang.

Selain proses pemusnahan, pemerintah Jepang juga memperkuat pengawasan biosekuriti di sekitar area peternakan. Tim investigasi epidemiologi diterjunkan untuk menelusuri sumber penularan dan kemungkinan jalur penyebaran virus.

Upaya lain yang dilakukan meliputi peningkatan disinfeksi kendaraan dan fasilitas peternakan, pembatasan lalu lintas hewan, hingga pencegahan masuknya hewan liar yang berpotensi membawa virus.

Wabah ini menjadi kasus keempat demam babi yang tercatat di Jepang sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak karena dapat memicu kerugian ekonomi besar serta mengganggu stabilitas pasokan daging babi domestik.

Baca Juga  PM Jepang Sanae Takaichi Sinyalkan Bubarkan Parlemen, Pemilu Dini Segera Digelar

Demam babi klasik merupakan penyakit virus yang menyerang babi ternak maupun babi liar. Meski tidak menular kepada manusia, penyakit ini sangat berbahaya bagi industri peternakan karena tingkat penyebarannya cepat dan dapat menyebabkan kematian massal pada hewan ternak.

Pemerintah Jepang saat ini terus memperketat sistem pengawasan kesehatan hewan guna menekan risiko wabah susulan di berbagai prefektur lain.

Baca berita internasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait