JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat memperketat pengawasan laut di sekitar Selat Hormuz. Langkah tersebut memicu perhatian dunia internasional karena jalur itu dikenal sebagai salah satu urat nadi perdagangan energi global.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengungkapkan bahwa pasukan AS telah mengalihkan puluhan kapal komersial demi memastikan penerapan blokade maritim terhadap akses pelabuhan Iran tetap berjalan.
Dalam pernyataan resminya melalui platform X pada Senin, 4 Mei 2026, CENTCOM menyebut sedikitnya 50 kapal dagang telah diarahkan untuk mengubah rute pelayaran selama operasi berlangsung.
“Pasukan AS melakukan pengalihan terhadap kapal komersial untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan keamanan maritim yang sedang diterapkan,” tulis CENTCOM dalam keterangannya.
Langkah itu merupakan bagian dari operasi laut yang dimulai sejak 13 April 2026, ketika Angkatan Laut AS meningkatkan kontrol terhadap lalu lintas kapal di sekitar Selat Hormuz, termasuk jalur menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.
Meski Washington memperketat akses menuju kawasan tersebut, pemerintah AS menegaskan kapal asing non-Iran masih diizinkan melintas selama tidak terlibat aktivitas yang dianggap mendukung kepentingan Teheran.
Selat Hormuz Jadi Pusat Perebutan Pengaruh
Selat Hormuz selama ini menjadi titik strategis perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima distribusi minyak global melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab tersebut.
Karena itu, setiap eskalasi keamanan di kawasan langsung memicu kekhawatiran pasar internasional, termasuk potensi lonjakan harga energi dan terganggunya rantai logistik global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan operasi bertajuk Project Freedom. Program itu diklaim bertujuan membantu kapal-kapal yang tertahan di sekitar Hormuz agar dapat keluar dari wilayah konflik dengan aman.
Operasi tersebut melibatkan kekuatan militer besar. CENTCOM menyebut pengerahan dilakukan menggunakan kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat tempur dan pengintai, sistem nirawak lintas domain, serta sekitar 15 ribu personel militer.
Penguatan armada itu disebut sebagai bagian dari strategi pengamanan jalur perdagangan internasional di tengah meningkatnya tensi dengan Iran.
Iran Bantah Dominasi AS di Perairan Strategis
Di sisi lain, media Iran melaporkan pasukan militer negara itu berhasil menghalau kapal perang Amerika yang mencoba melintas di jalur perairan strategis tersebut.
Laporan media lokal menyebut Iran sempat menembakkan dua rudal peringatan ke arah kapal perang AS. Namun, klaim tersebut langsung dibantah pihak CENTCOM yang menegaskan tidak ada serangan terhadap armada mereka.
Situasi saling klaim itu semakin memperlihatkan memanasnya hubungan kedua negara, terutama setelah Washington meningkatkan tekanan militer di kawasan Teluk.
Trump bahkan memperingatkan Iran agar tidak melakukan tindakan agresif terhadap kapal-kapal Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz.
Pernyataan keras dari Gedung Putih dinilai memperbesar risiko konfrontasi terbuka apabila kedua pihak terus memperlihatkan kekuatan militer di kawasan yang sama.
Analis keamanan internasional menilai ketegangan di Selat Hormuz kini bukan sekadar persoalan navigasi laut, melainkan pertarungan pengaruh geopolitik yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Baca berita internasional dan geopolitik terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(HD)






